Rahasia Bisnis Sahabat Terkaya Nabi Muhammad Rezeki Tidak Putus

Agus Riyadi

27 Februari 2026

3
Min Read

Ekonesia – Kota Makkah, sejak zaman dahulu kala, telah dikenal sebagai pusat perniagaan yang strategis, menjadi jembatan penghubung antara peradaban timur dan barat. Tak heran, dari tanah suci ini lahir banyak saudagar ulung dan pebisnis kakap. Sebut saja Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Muhammad, yang memiliki jaringan dagang hingga ke Mesir, atau bahkan Nabi Muhammad sendiri yang juga aktif berbisnis. Namun, di antara deretan nama besar tersebut, Abdurrahman bin Auf muncul sebagai sosok yang tak tertandingi, dikenal sebagai sahabat Nabi Muhammad dengan kekayaan paling melimpah.

Abdurrahman adalah salah satu dari generasi awal yang memeluk Islam atas ajakan Abu Bakar as-Shidiq. Ia bergabung dengan agama tauhid bersama para sahabat mulia lainnya seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Setelah keislamannya, Abdurrahman tak pernah absen mendampingi Rasulullah dalam setiap kesempatan. Di sela-sela kesibukan dakwah dan perjuangan, ia senantiasa meluangkan waktu untuk berdagang, sebuah profesi yang dianggapnya lebih luwes dan menjanjikan dibandingkan bertani di Makkah. Setiap kunjungan ke kota lain selalu dimanfaatkannya untuk memperluas jaringan dan meraup keuntungan.

Rahasia Bisnis Sahabat Terkaya Nabi Muhammad Rezeki Tidak Putus
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Riset berjudul "Konsep Bisnis Abdurrohman Bin ‘Auf Radiyallahu ‘Anh Ditinjau dari Fiqih Muamalah dan Sejarah" (2022) mengungkap kunci sukses di balik bisnis Abdurrahman bin Auf. Prinsip utamanya adalah menjauhi segala bentuk transaksi yang diharamkan. Ia dikenal tak pernah terlilit utang dan selalu berdagang sesuai dengan keahlian serta pengetahuannya. Selain itu, sifat tamak jauh dari dirinya. Setiap laba yang diperoleh selalu diputar kembali untuk kemaslahatan, baik melalui sedekah kepada keluarga maupun mereka yang membutuhkan.

Ia juga menolak keras penjualan secara kredit, menganggapnya sebagai praktik yang mendekati riba. Yang tak kalah penting, Abdurrahman bin Auf selalu menghargai setiap keuntungan, sekecil apa pun. Baginya, besar atau kecil, laba adalah tanda bahwa barang dagangannya laku dan bermanfaat.

Berkat ketekunan dan prinsip-prinsip inilah, harta Abdurrahman bin Auf terus berlimpah ruah. Meski jumlah pasti kekayaannya tak terukur secara pasti, besarnya sedekah yang ia keluarkan menjadi indikator jelas betapa kayanya ia. Tercatat, ia pernah menjual sebidang tanah seharga 1.000 dinar. Tak hanya itu, ia juga pernah menyumbangkan 500 ekor kuda dan 1.500 ekor unta untuk mendukung perjuangan kaum Muslimin di medan perang. Bahkan, menjelang akhir hayatnya, ia mewasiatkan 500 ribu dinar dan 400 ribu dinar kepada setiap pejuang yang terlibat dalam Perang Badar.

Apabila dikalkulasikan dengan nilai mata uang masa kini, di mana 1 dinar setara dengan sekitar Rp54.699, maka total sumbangan dinar yang disebutkan (901.000 dinar) akan mencapai angka fantastis sekitar Rp49.283.799.000. Belum lagi jika ditambah dengan nilai kuda dan unta. Jika diasumsikan harga seekor kuda sekitar Rp25 juta dan unta Rp20 juta, maka 500 kuda bernilai Rp12.500.000.000 dan 1.500 unta senilai Rp30.000.000.000. Secara keseluruhan, total sumbangan Abdurrahman bin Auf diperkirakan mencapai lebih dari Rp85 miliar.

Meskipun perhitungan ini bersifat estimasi berdasarkan kurs dan harga masa kini, angka-angka tersebut tak sedikit pun mengurangi fakta bahwa Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad yang paling kaya raya, dengan etika bisnis yang patut diteladani.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post