Putra Kartini Pilih Miskin Ogah Jual Nama

Agus Riyadi

15 Maret 2026

3
Min Read

Ekonesia – Di tengah sorotan publik terhadap fenomena anak-anak pejabat yang kerap memanfaatkan nama besar orang tua untuk meraih posisi dan kesuksesan, kisah Soesalit muncul sebagai antitesis yang menampar realitas. Ia adalah putra tunggal dari pahlawan nasional R.A. Kartini, namun memilih jalan hidup yang jauh dari kemewahan dan privilege yang seharusnya bisa ia nikmati.

Lahir dari garis keturunan yang sangat terpandang, Soesalit adalah buah hati dari Raden Mas Adipati Ario Djojadiningrat, seorang Bupati Rembang, dan tentu saja, R.A. Kartini, sosok visioner yang pemikirannya melampaui zamannya. Dengan latar belakang demikian, pintu-pintu kemudahan seharusnya terbuka lebar baginya. Bahkan, ia memiliki hak untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai bupati. Namun, kesempatan emas itu ia tolak mentah-mentah. Berulang kali sanak saudara mendesak, namun Soesalit bergeming pada pendiriannya.

Putra Kartini Pilih Miskin Ogah Jual Nama
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Alih-alih meniti karier di jalur birokrasi yang sudah terbentang, Soesalit justru memilih bergabung dengan militer pada tahun 1943. Ia menjalani pelatihan di bawah tentara Jepang dan kemudian menjadi bagian dari Pembela Tanah Air (PETA). Ketika proklamasi kemerdekaan berkumandang, ia langsung mengabdikan diri pada Tentara Keamanan Rakyat Republik Indonesia (TKR). Dari sinilah, kariernya mulai menanjak dengan gemilang.

Menurut catatan sejarah, Soesalit aktif terlibat dalam berbagai pertempuran sengit melawan Belanda, sebuah dedikasi yang membuatnya cepat naik pangkat dan namanya semakin dikenal di kalangan militer. Puncak kariernya sebagai prajurit terjadi pada tahun 1946, saat ia diangkat menjadi Panglima Divisi II Diponegoro. Sebuah jabatan krusial, mengingat divisi tersebut bertanggung jawab menjaga ibu kota negara di Yogyakarta kala itu. Tak hanya itu, ia juga sempat menduduki beberapa posisi sipil, salah satunya sebagai penasihat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastro pada tahun 1953.

Menariknya, di balik semua pencapaian itu, sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa Soesalit adalah putra dari R.A. Kartini. Ia memang sengaja tidak pernah mengumbar atau memanfaatkan nama besar ibunya. Padahal, sepanjang hidupnya, kisah perjuangan Kartini terus menjadi inspirasi dan lagu "Ibu Kita Kartini" karya W.R. Soepratman sudah sangat populer dan dinyanyikan banyak orang.

Jenderal Nasution, salah satu atasan Soesalit, menjadi saksi bisu atas integritasnya. Nasution melihat bagaimana Soesalit, setelah tidak lagi bertugas, memilih hidup dalam kesederhanaan sebagai seorang veteran. Ia tidak pernah menuntut hak-haknya atau meminta belas kasihan. Nasution bahkan pernah berujar, Soesalit sebenarnya bisa saja menghindari hidup melarat dengan sekadar menyatakan dirinya sebagai satu-satunya putra Kartini. Dengan demikian, simpati publik akan mengalir deras, dan kehidupannya pasti akan berubah drastis.

Namun, Soesalit tetap teguh pada prinsipnya: tidak akan pernah mengutarakan bahwa dirinya adalah keturunan Kartini demi keuntungan pribadi. Prinsip inilah yang mengiringi langkahnya hingga akhir hayat. Pria kelahiran Rembang ini meninggal dunia pada 17 Maret 1962, dalam kondisi yang jauh dari kemewahan, sebuah pilihan hidup yang patut menjadi teladan bagi banyak generasi.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post