Ekonesia – Stadion Sultan Agung Bantul menjadi saksi bisu sebuah drama sepak bola yang tak terlupakan pada lanjutan BRI Super League musim 2025/2026. Dalam laga pekan ke-22 yang berlangsung Senin malam, PSIM Yogyakarta berhasil menunjukkan mental baja luar biasa, bangkit dari ketertinggalan tiga gol untuk memaksakan hasil imbang 3-3 melawan Bali United. Sebuah comeback epik yang membuat para pendukung tuan rumah bergemuruh dan tim tamu terpaku tak percaya.
Baca juga: Aceh Kirim Kondensat Ratusan Ribu Barel ke TPPI!
Sejak peluit awal dibunyikan, Laskar Mataram, julukan PSIM, langsung tancap gas dengan ambisi meraih poin penuh di kandang. Tekanan demi tekanan dilancarkan oleh para penggawa PSIM, termasuk Ezequiel Vidal dan Ze Valente, namun belum ada yang berhasil menggetarkan jala gawang Bali United. Justru Serdadu Tridatu yang tampil lebih efektif. Setelah peluang Boris Kopitovic di menit ke-13 berhasil dimentahkan kiper PSIM, Thijmen Goppel akhirnya membuka keunggulan Bali United di menit ke-34 melalui tendangan jarak dekat yang tak mampu diantisipasi. Keunggulan semakin diperlebar menjelang turun minum, tepatnya di menit 45+3, ketika Tim Receveur sukses menyundul bola dari skema sepak pojok, membawa Bali United memimpin 2-0 di babak pertama.

Memasuki paruh kedua, harapan PSIM untuk mengejar ketertinggalan justru semakin berat. Bali United kembali mengejutkan tuan rumah di menit ke-55. Irfan Jaya berhasil memanfaatkan bola muntah di depan gawang Cahya Supriadi, mengubah skor menjadi 3-0 untuk keunggulan tim tamu. Situasi ini seolah-olah mengunci kemenangan bagi skuad asuhan Johnny Jansen, membuat PSIM berada di ambang kekalahan telak.
Baca juga: Harga Gula Petani Aman? Pemerintah Siapkan Rp1,5 Triliun!
Namun, semangat juang PSIM tak padam begitu saja. Sebuah percikan harapan muncul di menit ke-66. Savio Sheva menjadi pahlawan pertama bagi PSIM, melepaskan tembakan jarak jauh yang akurat setelah menyambut bola liar, memperkecil kedudukan menjadi 1-3. Momentum mulai berpihak pada tuan rumah ketika Bali United harus bermain dengan sepuluh pemain di menit ke-72. Joao Ferrari diganjar kartu merah, memberikan keuntungan signifikan bagi Laskar Mataram untuk terus menekan.
Kehilangan satu pemain membuat pertahanan Bali United goyah. Tekanan tanpa henti dari PSIM akhirnya membuahkan hasil dramatis. Di menit ke-88, nasib sial menimpa Bali United saat Ricky Fajrin melakukan gol bunuh diri, membuat skor berubah menjadi 2-3. Sorak sorai pendukung PSIM semakin membahana, menyuntikkan energi ekstra bagi tim kesayangan mereka. Dan keajaiban benar-benar terjadi di masa injury time, menit 90+1. Franco Ramos Mingo tampil sebagai penyelamat, menyarangkan bola ke gawang Hauptmeijer dan menyamakan kedudukan menjadi 3-3.
Peluit panjang pun dibunyikan, mengakhiri pertandingan dengan skor imbang yang luar biasa. PSIM Yogyakarta berhasil mengamankan satu poin di kandang sendiri setelah tertinggal tiga gol tanpa balas. Sementara itu, Bali United harus menelan pil pahit, kehilangan keunggulan mutlak dan membiarkan kemenangan yang sudah di depan mata sirna begitu saja. Johnny Jansen dan anak asuhnya pasti akan merenungkan bagaimana mereka bisa kehilangan kendali atas pertandingan yang awalnya mereka dominasi penuh.











Tinggalkan komentar