Ekonesia – Manchester United kini berada di tengah pusaran ketidakpastian. Hasil imbang 2-2 yang mengecewakan melawan Burnley di Turf Moor tidak hanya membuat Setan Merah terperosok ke peringkat ketujuh Liga Inggris, tetapi juga menandai awal masa transisi kepelatihan yang penuh tanda tanya di Old Trafford. Periode genting ini menuntut fokus penuh, terutama dengan lima pertandingan krusial menanti di depan mata.
Baca juga: Rudiger Diincar Arab Saudi, Madrid Langsung Gercep!
Darren Fletcher, mantan gelandang yang kini menjabat sebagai pelatih kepala sementara, belum mampu menghadirkan dampak instan. Debutnya di pinggir lapangan berakhir tanpa kemenangan, memperpanjang rentetan hasil kurang memuaskan. Situasi di kursi pelatih masih buram; belum ada kejelasan apakah Fletcher akan tetap memimpin tim saat United menjamu Brighton di putaran ketiga Piala FA. Pihak klub dikabarkan tengah berupaya menunjuk seorang pelatih pengganti untuk memimpin hingga akhir musim, sebelum akhirnya mencari suksesor permanen Ruben Amorim pada musim panas mendatang. Keputusan berpisah dengan Amorim diambil karena manajemen menilai minimnya perkembangan dan kemajuan tim sepanjang musim ini, meskipun target awal adalah finis di enam besar.

Setelah laga Piala FA yang bisa jadi pertandingan terakhir Fletcher, Manchester United akan menghadapi serangkaian ujian berat di Premier League. Tantangan pertama adalah menjamu rival sekota, Manchester City, pada Sabtu, 17 Januari. Kemudian, mereka harus bertandang ke markas Arsenal pada Minggu, 25 Januari, sebuah laga yang selalu sarat gengsi. Memasuki Februari, United akan memainkan dua laga kandang beruntun yang tak kalah penting: melawan Fulham pada Minggu, 1 Februari, dan Tottenham Hotspur pada Sabtu, 7 Februari.
Baca juga: Telkom Berbagi di Ramadan: Aksi Nyata ESG!
Target finis enam besar, yang sebelumnya dibebankan kepada Amorim, kini menjadi warisan bagi pelatih sementara. Ambisi untuk kembali berkompetisi di Eropa masih menyala, dengan harapan bahwa posisi lima besar bisa mengamankan tiket Liga Champions, tergantung pada koefisien UEFA. Fase ini akan menjadi pembuktian mentalitas dan jati diri Manchester United. Jadwal padat dengan lawan-lawan kuat menuntut respons cepat dan konsistensi, bukan hanya dari staf pelatih, tetapi juga dari setiap pemain di lapangan. Stabilitas dan kejelasan di kursi pelatih menjadi kunci utama untuk menembus persaingan ketat di papan atas.











Tinggalkan komentar