Ekonesia – Rencana besar konsolidasi perusahaan galangan kapal milik negara oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mulai menunjukkan implikasi serius. PT PAL Indonesia Persero diproyeksikan menjadi tulang punggung industri perkapalan nasional, namun di balik ambisi tersebut, muncul kekhawatiran mendalam terkait nasib ribuan karyawan.
Baca juga: Kiai Ghofur Terima Bintang Jasa, Inspirasi Ekonomi Umat!
Direktur Utama PT PAL, Kaharuddin Djenod, menegaskan bahwa proses penggabungan ini akan diikuti dengan evaluasi komprehensif terhadap seluruh tenaga kerja. "Setelah merger, kami akan melakukan penilaian menyeluruh untuk mempertahankan karyawan yang benar-benar memiliki kapasitas dan kapabilitas mumpuni," ujarnya di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Kaharuddin tidak menampik adanya potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi karyawan yang kapabilitasnya tidak sejalan dengan transformasi perusahaan. Menurutnya, langkah rasionalisasi ini adalah keniscayaan demi membentuk tim inti yang berdaya saing. "Ini harus realistis. Kami ingin membangun tim yang bukan sekadar mengumpulkan orang, melainkan tim yang mampu membangun industri, pasar, dan ekosistemnya," jelasnya.
Baca juga: Rahasia Sukses Danantara: Rayuan Maut ke Bill Gates!
Lebih lanjut, Kaharuddin mengungkapkan bahwa merger ini juga menjadi solusi untuk memulihkan kondisi finansial galangan kapal BUMN. Tujuannya adalah menyehatkan dan menyelamatkan perusahaan dari akumulasi beban masa lalu. Upaya penyelamatan keuangan PT PAL, termasuk skema pendanaan, telah dibahas bersama Danantara dan akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Himbara.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, sebelumnya menyatakan bahwa integrasi ini akan mewajibkan seluruh perusahaan BUMN yang membutuhkan manufaktur kapal, seperti PT PIS, PT PELNI, dan PT ASDP, untuk melakukannya di PT PAL. "Ini adalah langkah strategis untuk mengembangkan industri sesuai peta jalan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirancang Presiden Prabowo," kata Dony. Ia menambahkan, fokus pada industri akan menciptakan lapangan kerja dan menekan ketergantungan impor.











Tinggalkan komentar