Ekonesia – Harga minyak global kembali melonjak tajam pada perdagangan Kamis pagi, memicu kekhawatiran serius di pasar energi dunia. Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran, menjadi pemicu utama. Situasi tersebut mengancam stabilitas pasokan energi global, terutama dengan adanya hambatan di jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk.
Baca juga: Langit Jakarta Gemerlap! HUT RI ke-80 Ditutup Spektakuler
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv per pukul 10.00 WIB, minyak mentah Brent tercatat menembus angka US$83,49 per barel, naik signifikan dari US$81,40 sehari sebelumnya. Senada, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat menjadi US$76,93 per barel, dari US$74,66 pada perdagangan Rabu. Kenaikan ini melanjutkan tren positif yang telah berlangsung sejak akhir Februari, dengan Brent melesat dari US$72,48 dan WTI dari US$67,02, mencatat lonjakan lebih dari 15% hanya dalam waktu sekitar sepekan.

Lonjakan harga ini tak lepas dari kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan energi dari jantung Teluk Persia. Konflik antara AS dan Iran dilaporkan semakin memanas menyusul serangan militer Amerika Serikat terhadap sebuah kapal perang Iran di dekat perairan Sri Lanka. Insiden ini meningkatkan spekulasi akan eskalasi konflik yang berpotensi melumpuhkan produksi dan distribusi minyak di wilayah vital tersebut.
Baca juga: Harga Beras Turun Drastis! Petani Untung, Konsumen Senang?
Selain intrik militer, jalur krusial pengiriman energi global juga menghadapi tekanan serius. Selat Hormuz, yang merupakan arteri vital bagi hampir seperlima konsumsi energi dunia, dilaporkan mengalami gangguan selama beberapa hari terakhir akibat meningkatnya risiko keamanan. Beberapa kapal tanker bahkan terpaksa tertahan di kawasan Teluk, mengindikasikan terganggunya aktivitas pelayaran secara signifikan.
Gangguan logistik juga merambah sisi produksi. Irak, sebagai produsen minyak terbesar kedua dalam OPEC, dikabarkan memangkas produksinya hingga sekitar 1,5 juta barel per hari. Pemangkasan ini disebabkan oleh keterbatasan fasilitas penyimpanan dan hambatan pada jalur ekspor, yang semakin memperketat pasokan minyak global di tengah permintaan yang relatif stabil. Di sisi lain, pasar energi juga dihadapkan pada gangguan di sektor gas alam. Qatar, salah satu eksportir LNG terbesar dunia, menghentikan sebagian pengiriman gasnya setelah memberlakukan kondisi force majeure. Pemulihan produksi diperkirakan memakan waktu setidaknya satu bulan, menambah beban pada pasar energi global yang sudah tegang.
Meskipun demikian, beberapa analis berpendapat bahwa gangguan produksi minyak di kawasan Teluk kemungkinan bersifat sementara. Sejumlah ladang minyak diperkirakan dapat kembali beroperasi dalam hitungan hari, dengan pemulihan kapasitas penuh biasanya memakan waktu dua hingga tiga pekan setelah situasi logistik kembali normal. Namun, selama ketegangan geopolitik masih membara, volatilitas harga energi global diperkirakan akan tetap tinggi, menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi global.




Tinggalkan komentar