Minyak Dunia Goyang Pasar Menanti Keputusan Iran

Agus Riyadi

26 Maret 2026

2
Min Read

Ekonesia – Harga minyak mentah global kembali menunjukkan pergerakan naik tipis, memulihkan diri dari tekanan sehari sebelumnya. Pasar energi dunia kini berada dalam mode "tunggu dan lihat", mencermati setiap perkembangan geopolitik yang masih bergejolak, terutama dari kawasan Timur Tengah. Tercatat pada Kamis 26 Maret 2026 pukul 09.25 WIB, harga Brent (LCOc1) mencapai US$103,31 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI/CLc1) diperdagangkan di level US$91,41 per barel.

Fluktuasi harga minyak memang menjadi pemandangan biasa dalam beberapa hari terakhir. Minyak Brent, misalnya, sempat menyentuh US$104,49 pada 24 Maret, kemudian merosot ke US$102,22, sebelum kembali menguat. Pola serupa juga terlihat pada WTI, yang bergerak dari US$92,35, jatuh ke US$90,32, lalu bangkit lagi ke US$91,41. Bahkan, dalam rentang waktu yang lebih panjang, harga sempat melonjak drastis hingga US$112,19 untuk Brent pada 20 Maret, sebelum mengalami koreksi tajam. Dinamika ini jelas menunjukkan betapa rentannya harga minyak terhadap eskalasi atau de-eskalasi ketegangan di kawasan Teluk.

Minyak Dunia Goyang Pasar Menanti Keputusan Iran
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kenaikan harga pada perdagangan awal Kamis ini sebagian besar didorong oleh aksi beli yang muncul setelah penurunan sebelumnya, diiringi harapan akan meredanya ketegangan di Timur Tengah. Para investor mulai mempertimbangkan potensi penurunan eskalasi konflik, terutama setelah kabar bahwa Iran sedang mengkaji proposal dari Amerika Serikat. Proposal ini bertujuan mengakhiri konflik yang selama ini menjadi momok bagi kelancaran pasokan energi global dari salah satu jalur vital dunia.

Meskipun respons awal Iran terhadap tawaran tersebut dilaporkan cenderung negatif, keputusan Teheran untuk tidak langsung menolak secara resmi dianggap sebagai sinyal positif. Ini mengindikasikan bahwa jalur diplomasi masih terbuka lebar. Dalam konteks pasar energi, setiap isyarat, sekecil apa pun, mengenai potensi perdamaian dapat langsung memengaruhi ekspektasi pasokan, mengingat posisi strategis kawasan Teluk sebagai pusat distribusi minyak dunia.

Namun, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan akan meningkatkan tekanan terhadap Iran apabila proposal tersebut tidak diterima. Pernyataan ini menjadi pengingat tegas bahwa risiko eskalasi masih membayangi. Kondisi inilah yang membuat pasar belum sepenuhnya berani mengunci diri pada tren bullish yang lebih kuat, menjaga harga minyak bergerak dalam rentang yang cukup lebar dalam beberapa hari terakhir.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post