Ekonesia – Pasar minyak global kembali diwarnai gejolak ekstrem. Setelah sempat meroket tajam memicu kekhawatiran global, harga komoditas energi vital ini kini justru berbalik arah dan anjlok drastis. Perubahan dramatis ini tak lepas dari pernyataan mengejutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberikan sinyal kuat meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Baca juga: Ditahan? Siap-Siap Kena Sanksi Perusahaan!
Pada Selasa pagi harga minyak Brent tercatat di angka US$98,96 per barel sementara West Texas Intermediate WTI berada di US$94,77 per barel. Angka ini jauh menurun dari puncaknya awal pekan ketika kekhawatiran gangguan pasokan global mendorong harga melambung tinggi. Sepekan sebelumnya harga minyak memang sudah menunjukkan tren kenaikan signifikan. Brent misalnya bergerak dari US$70,75 per barel pada 26 Februari lalu melonjak bertahap hingga menembus US$92,69 pada 6 Maret. Puncaknya terjadi pada awal pekan ini saat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kepanikan pasar.

Ketegangan yang memicu lonjakan harga berpusat pada potensi konfrontasi militer antara Amerika Serikat Israel dan Iran. Situasi ini menimbulkan spekulasi serius mengenai stabilitas pasokan minyak dunia khususnya melalui Selat Hormuz. Jalur maritim vital yang dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak global itu menjadi sangat rentan. Gangguan di Selat Hormuz sempat menyebabkan tanker-tanker tak bisa berlayar selama lebih dari sepekan memaksa sejumlah produsen menghentikan operasional karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. Kondisi ini sempat mendorong harga minyak Brent dan WTI menyentuh US$119 per barel level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Baca juga: Awas! Ribuan Mercy Ditarik, Setir Bisa Blong?
Beberapa produsen minyak di kawasan Teluk bahkan dilaporkan telah memangkas produksi akibat terhambatnya pengiriman. Irak misalnya mengurangi produksi di ladang minyak selatan hingga sekitar 70 persen menjadi 1,3 juta barel per hari. Kuwait Petroleum Corporation juga menyatakan force majeure dan memangkas outputnya. Arab Saudi disebut-sebut turut melakukan penyesuaian produksi demi merespons gejolak pasar yang tak menentu.
Namun euforia harga tinggi tersebut tak bertahan lama. Pasar berbalik arah secara dramatis setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang menenangkan. Dalam sebuah wawancara dengan CBS Trump mengklaim bahwa operasi militer terhadap Iran "sudah sangat mendekati selesai" jauh lebih cepat dari perkiraan awal empat hingga lima minggu.
Pernyataan Trump ini sontak meredakan sebagian besar kekhawatiran di pasar energi global. Selain itu muncul pula spekulasi bahwa Washington tengah mempertimbangkan berbagai opsi untuk menekan harga minyak. Opsi tersebut termasuk melonggarkan sanksi energi terhadap Rusia serta kemungkinan melepas cadangan minyak strategis Amerika Serikat. Langkah-langkah ini diyakini berpotensi menambah suplai global jika tekanan harga terus berlanjut.
Meskipun demikian ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya sirna. Garda Revolusi Iran telah memperingatkan bahwa Teheran tidak akan membiarkan "satu liter pun minyak keluar dari kawasan" jika serangan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut. Ancaman ini menjadi pengingat bahwa konflik masih berpotensi mengguncang pasar energi kapan saja dan menjaga kewaspadaan tetap tinggi.




Tinggalkan komentar