Menteri Ditolak Istana Gara Gara Kijang Tua

Agus Riyadi

11 April 2026

2
Min Read

Ekonesia – Kisah integritas seorang pejabat tinggi negara seringkali menjadi sorotan, namun tak banyak yang seunik pengalaman Mar’ie Muhammad. Dijuluki "Mr. Clean" di era Orde Baru, Menteri Keuangan ini pernah mengalami insiden tak terduga: ia ditolak masuk Istana Negara hanya karena mobil yang ia kendarai.

Momen itu terjadi pada tahun 1996. Mar’ie Muhammad, yang saat itu menjabat Menteri Keuangan, dijadwalkan menerima anugerah Bintang Mahaputra langsung dari Presiden Soeharto. Berbeda dengan lazimnya pejabat sekelas menteri yang tiba dengan limusin mewah dan sopir pribadi, Mar’ie justru hadir ditemani sang istri, mengemudikan sendiri Kijang keluaran era 80-an miliknya yang sudah uzur. Mobil itu adalah kendaraan pribadi, bukan fasilitas dinas.

Menteri Ditolak Istana Gara Gara Kijang Tua
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Setibanya di gerbang Istana Negara, mobil Mar’ie dihentikan oleh petugas keamanan. Mereka, yang terbiasa melihat mobil-mobil mewah para pejabat, tak mengenali sang menteri dan menganggapnya sebagai pengunjung biasa karena tampilan kendaraannya yang sederhana. Barulah setelah Mar’ie menunjukkan kartu identitasnya dan menjelaskan tujuan kedatangannya, para penjaga sigap meminta maaf dan mempersilakan beliau masuk dengan hormat.

Insiden ini bukan sekadar kebetulan. Mar’ie Muhammad memang dikenal teguh memegang prinsip bahwa fasilitas negara, termasuk mobil dinas, hanya boleh digunakan untuk kepentingan pekerjaan, bukan untuk urusan pribadi. Putranya pernah menuturkan, ayahnya menganut filosofi efisiensi di atas segala-galanya, tak suka mengganti barang selama masih berfungsi optimal. Baginya, nilai guna jauh lebih penting ketimbang sekadar gengsi atau tampilan. "Mau harganya Rp500 juta atau Rp100 juta, sama saja kan?" ucap sang anak menirukan prinsip ayahnya.

Kesederhanaan Mar’ie bukanlah sebuah pencitraan, melainkan refleksi murni dari nilai-nilai luhur yang ia pegang teguh: bersih, jujur, dan berintegritas. Prinsip hidupnya ini juga tercermin dalam kinerjanya sebagai abdi negara. Ketika menjabat Direktur Jenderal Pajak, ia berhasil melampaui target penerimaan, melonjakkan pendapatan negara dari Rp9 triliun menjadi Rp19 triliun. Sebagai Menteri Keuangan, Mar’ie piawai menjaga stabilitas anggaran dan menunda potensi krisis ekonomi melalui kebijakan fiskal yang bijaksana dan penuh kehati-hatian.

Dedikasinya mengantarkannya pada pengakuan internasional, dengan majalah Asiamoney menobatkannya sebagai Menteri Keuangan Terbaik Asia pada tahun 1995. Setelah pensiun dari jabatan bendahara negara pada 1998, ia terus mengabdikan diri pada gerakan kemanusiaan dan pemberantasan korupsi hingga akhir hayatnya pada 11 Desember 2016. Kisah Mar’ie Muhammad menjadi pengingat abadi akan pentingnya integritas di tengah kekuasaan.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post