Ekonesia – Pasar logam dunia bergejolak, dan satu komoditas berhasil mencuri perhatian: aluminium. Kenaikan harga yang meroket dalam beberapa bulan terakhir telah menciptakan gelombang kekayaan baru, khususnya bagi seorang maestro industri dari Tiongkok, Zhang Bo.
Baca juga: Barcelona Bidik Bek Kanan Sensasional!
Harga aluminium global melonjak drastis, mencapai puncaknya di angka US$3.390 per ton di Inggris pada Maret, level tertinggi dalam hampir empat tahun. Lonjakan ini dipicu oleh serangkaian gangguan pasokan krusial dari kawasan Teluk Persia, jantung produksi aluminium dunia. Konflik regional, termasuk serangan Iran, memaksa sejumlah fasilitas pemurnian aluminium menghentikan operasinya.

Dampaknya terasa cepat. Qatar menghentikan produksi bersama perusahaan Norwegia Norsk Hydro, sementara Aluminium Bahrain (Alba), produsen terbesar di Bahrain, mengumumkan force majeure dan menunda pengiriman. Mengingat Teluk Persia menyumbang sekitar 10% dari pasokan primer global, setiap gangguan di sana langsung memperketat pasar. Situasi diperparah dengan stok aluminium di gudang bursa London Metal Exchange dan COMEX yang berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, menjadikan pasar sangat rentan terhadap gejolak.
Baca juga: Barca Tunda Kontrak Lewandowski! Ada Apa?
Di tengah krisis pasokan ini, perhatian beralih ke Tiongkok, produsen aluminium terbesar dunia. Namun, ekspansi produksi Negeri Tirai Bambu tahun ini dibatasi pemerintah hingga sekitar 45 juta ton untuk mengendalikan kelebihan kapasitas. Kondisi ini justru menjadi panggung bagi Zhang Bo, pemimpin raksasa aluminium China Hongqiao Group. Ia kini menjelma menjadi salah satu miliarder logam terbesar di Asia, dengan estimasi kekayaan mencapai US$48 miliar, setara Rp 809,04 triliun.
Sejak Zhang Bo mengambil alih kemudi pada 2019, nilai perusahaan Hongqiao melesat. Sahamnya melonjak sekitar 585% dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan ini bukan sekadar pemasok, melainkan mitra strategis bagi raksasa teknologi Tiongkok seperti Huawei, Xiaomi, hingga produsen kendaraan listrik BYD. Kunci kesuksesan Hongqiao terletak pada penguasaan rantai pasok bahan baku secara menyeluruh. Mereka mengembangkan tambang bauksit di Guinea sejak pertengahan 2010-an, kemudian memprosesnya di fasilitas alumina, termasuk pabrik yang beroperasi di Indonesia.
Model bisnis terintegrasi ini memungkinkan Hongqiao menjaga biaya operasional tetap rendah dibandingkan para pesaingnya. Mereka bahkan memindahkan sebagian kapasitas smelter ke Provinsi Yunnan untuk memanfaatkan listrik tenaga air yang lebih murah. Selain itu, pergeseran permintaan global turut memperkuat posisi produsen besar. Aluminium kini menjadi komponen vital dalam industri kendaraan listrik, panel surya, dan turbin angin, seiring dengan masifnya ekspansi proyek energi bersih di seluruh dunia.





Tinggalkan komentar