Lippo MPPA Borong Properti Rp780 Miliar Ada Apa

Agus Riyadi

19 Februari 2026

2
Min Read

Ekonesia – Emiten ritel raksasa PT Matahari Putra Prima Tbk MPPA yang bernaung di bawah Grup Lippo baru-baru ini membuat gebrakan mengejutkan. Perusahaan pengelola Hypermart ini menggelontorkan dana fantastis hingga Rp780 miliar untuk mengakuisisi enam properti strategis. Langkah besar ini memicu pertanyaan di tengah kondisi keuangan perusahaan yang masih berjuang.

Rangkaian transaksi jumbo tersebut terungkap melalui laporan resmi Bursa Efek Indonesia. Seluruh kesepakatan pembelian tanah dan bangunan ini diteken secara serentak pada 18 Februari 2026.

Lippo MPPA Borong Properti Rp780 Miliar Ada Apa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Salah satu akuisisi terbesar adalah pembelian tanah seluas 8.001 meter persegi beserta gedung pusat perbelanjaan Mega M Kedung Badak di Bogor dari PT Surya Asri Lestari SAL senilai Rp122 miliar. Masih dari SAL MPPA juga mengamankan tanah 2.056 meter persegi dan gedung Sinar Matahari Bogor seharga Rp4950 miliar.

Tak berhenti di situ MPPA juga mengakuisisi Plaza Gresik dari PT Panca Megah Utama PMU. Properti ini mencakup tanah 6.704 meter persegi dan gedung seluas 15.848 meter persegi dengan nilai Rp13450 miliar. Kemudian dari PT Nusa Malioboro Indah NMI MPPA membeli Gedoeng Merah ex Matahari Malioboro di Yogyakarta seluas 1.658 meter persegi tanah dan 5.382 meter persegi bangunan seharga Rp68 miliar.

Transaksi paling mencolok adalah pembelian bangunan bertingkat di atas tanah bersama di Dukuh Menanggal Surabaya dari PT Citra Cito Perkasa CCP senilai Rp35150 miliar. Properti ini memiliki luas 16.13806 meter persegi. Terakhir MPPA juga membeli tanah seluas 38.169 meter persegi di Balaraja dari PT Balaraja Sentosa seharga Rp5450 miliar.

Corporate Secretary MPPA Mirtha Sukanto dalam keterangan resminya menyatakan bahwa akuisisi ini diharapkan membawa dampak positif bagi operasional perusahaan dan memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham. Namun hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai peruntukan spesifik dari keenam properti yang baru saja dibeli tersebut.

Langkah ekspansif ini menjadi sorotan mengingat MPPA telah mencatatkan kerugian bersih selama sembilan tahun berturut-turut sejak 2017 hingga 2025. Laporan keuangan terbaru per Desember 2025 menunjukkan kerugian perusahaan membengkak menjadi Rp15221 miliar dari Rp1181 miliar pada 2024. Akumulasi defisit MPPA kini mencapai Rp295 triliun yang berujung pada defisiensi modal sebesar Rp224 miliar.

Publik menanti strategi di balik pembelian aset bernilai ratusan miliar ini. Apakah ini sinyal kebangkitan atau manuver berani di tengah badai keuangan MPPA.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post