TeraNews Bisnis – Di tengah badai ekonomi global akibat gejolak geopolitik dan perang tarif, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI tetap kokoh. Buktinya? Laba bersih konsolidasian BRI pada kuartal I 2025 mencapai angka fantastis: Rp13,80 triliun! Kinerja gemilang ini diungkap Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, dalam konferensi pers kinerja keuangan baru-baru ini. Ia didampingi oleh jajaran direksi lainnya, termasuk Direktur Finance & Strategy Viviana Dyah Ayu, Direktur Manajemen Risiko Mucharom, Direktur Micro Akhmad Purwakajaya, dan Direktur Network & Retail Funding Aquarius Rudianto.
Baca juga: Dapur Bergizi Gratis Dikebut! September Kelar?
Hery mengakui ketidakpastian ekonomi global masih membayangi, terutama dampak perang tarif yang menekan perdagangan internasional dan rantai pasok. Meski demikian, ia optimistis dampak jangka pendek kebijakan tarif baru dapat diatasi. "Negosiasi antara Indonesia dan Amerika Serikat sedang berlangsung dan diharapkan menghasilkan kesepakatan yang lebih baik," ujarnya. Lebih lanjut, Hery menekankan bahwa ekonomi Indonesia, termasuk bisnis BRI, lebih bergantung pada konsumsi domestik. Meskipun depresiasi mata uang terjadi, dampak perang tarif diprediksi tidak signifikan.

Konsumsi domestik, walau masih tumbuh positif, belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi. Ini menjadi tantangan bagi UMKM, tulang punggung ekonomi Indonesia. "BRI tetap berkomitmen mendukung UMKM sebagai upaya nyata dalam mendukung pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional," tegas Hery.
Baca juga: Raphinha Saingi Ronaldo! Rekor Baru di Liga Champions
Kinerja positif BRI ditunjukkan oleh laba bersih Rp13,80 triliun dan aset mencapai Rp2.098,23 triliun, tumbuh 5,49% year on year (yoy). Pertumbuhan ini didorong penyaluran kredit yang selektif dan berkualitas di semua segmen, dengan fokus utama pada UMKM.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, memaparkan penyaluran kredit mencapai Rp1.373,66 triliun (tumbuh 4,97% yoy), dengan 81,97% dialokasikan untuk UMKM (Rp1.126,02 triliun). Keberhasilan ini juga didukung oleh AgenBRILink yang kini mencapai 1,2 juta agen (pertumbuhan 49,48% yoy), tersebar di lebih dari 67 ribu desa dan mencatat volume transaksi Rp423 triliun di kuartal I 2025. Akhmad menambahkan, inisiatif ini sejalan dengan visi pembangunan nasional.
Direktur Manajemen Risiko BRI, Mucharom, menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit diiringi perbaikan kualitas berkat manajemen risiko yang efektif. NPL turun dari 3,11% (kuartal I 2024) menjadi 2,97% (kuartal I 2025), sementara LAR membaik dari 12,68% menjadi 11,12%. BRI juga menyiapkan pencadangan yang memadai, tercermin dari Rasio NPL Coverage yang mencapai 200,60%. Kesimpulannya, BRI membuktikan ketangguhannya di tengah dinamika ekonomi global.











Tinggalkan komentar