Krisis Biaya Hidup Ancam Pemilu Singapura!

Rachmad

1 Mei 2025

2
Min Read
Krisis Biaya Hidup Ancam Pemilu Singapura!

TeraNews Bisnis – Jelang Pemilu Singapura 2025 pada 3 Mei mendatang, kecemasan warga atas biaya hidup yang meroket semakin terasa. Bayang-bayang resesi dan inflasi tinggi menghantui jutaan pemilih, membuat perhelatan politik ini sarat dengan dinamika sosial ekonomi.

Richard Han, seorang konsultan keuangan berusia 68 tahun, misalnya, mengaku khawatir dengan masa pensiunnya nanti. Kekhawatiran serupa juga dirasakan Catherine Tan (30), konsultan keuangan lainnya. Dengan pendapatan rumah tangga S$5.700 (Rp72,2 juta) per bulan, ia kesulitan memenuhi kebutuhan, apalagi dengan biaya pengobatan anaknya yang mencapai S$300 per kunjungan dokter spesialis kulit. "Harga-harga naik, tapi gaji kami tidak," keluhnya, mengingat pendapatan keluarganya berada di bawah rata-rata nasional (S$11.297).

Krisis Biaya Hidup Ancam Pemilu Singapura!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Situasi ini dialami oleh sebagian besar dari 2,76 juta pemilih. Singapura, yang dua tahun berturut-turut dinobatkan sebagai kota termahal di dunia oleh Julius Baer, kini menghadapi dilema. Pelemahan ekonomi global dan tarif AS semakin memperparah kondisi.

Partai Aksi Rakyat (PAP), partai penguasa sejak kemerdekaan, diprediksi tetap berkuasa. Namun, tingkat kepuasan publik terhadap penanganan masalah ekonomi oleh pemerintah berada di titik terendah. Jajak pendapat Blackbox Research pada April 2025 menunjukkan peringkat pemerintah pada 26 isu sosial berada di level terendah, meskipun masih menunjukkan angka positif bersih untuk beberapa isu seperti penanganan biaya hidup (52 persen), pajak barang dan jasa (55 persen), dan perumahan (59 persen).

Tan mengaku akan tetap memilih PAP, berharap pemerintah memberikan lebih banyak bantuan sosial. Berbeda dengan Han, yang menginginkan suara oposisi lebih besar agar PAP lebih responsif terhadap kebutuhan rakyat. "Jika ada lebih banyak suara oposisi, mereka akan lebih banyak mendengarkan," tegasnya. Sentimen ini merefleksikan keresahan publik terhadap kenaikan GST (pajak nilai barang) dan biaya hidup sehari-hari yang terus meningkat. Pertarungan Pemilu Singapura 2025 tak hanya soal politik, tetapi juga cerminan perjuangan rakyat menghadapi krisis ekonomi.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post