Kisah Pilu Salim Group Kehilangan Bank Raksasa

Agus Riyadi

21 Maret 2026

4
Min Read

Ekonesia – Siapa tak kenal Salim Group? Gurita bisnisnya membentang dari pangan hingga perbankan, merajai pasar domestik dan global. Namun, di balik gemerlap kesuksesan hari ini, tersimpan sebuah babak kelam yang nyaris meruntuhkan imperium ini. Kisah dramatis ini tak lepas dari peran sang pendiri, Sudono Salim, dan jalinan eratnya dengan kekuasaan di era Orde Baru.

Akar kejayaan Salim Group bermula dari sebuah perkenalan tak terduga. Sudono Salim, yang juga dikenal sebagai Liem Sioe Liong, adalah seorang pengusaha ulung di bidang impor cengkeh dan logistik militer pasca-kemerdekaan. Jaringan bisnisnya yang luas menarik perhatian Kolonel Soeharto. Melalui perantara Sulardi, sepupu Soeharto, keduanya bertemu. Salim kemudian dipercaya sebagai pemasok logistik bagi pasukan Kolonel Soeharto selama periode Perang Kemerdekaan (1945-1949). Momen inilah yang kelak menjadi titik balik dalam perjalanan hidup Sudono Salim, membuka gerbang menuju kemitraan strategis.

Kisah Pilu Salim Group Kehilangan Bank Raksasa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Saat Soeharto naik takhta kepresidenan di pertengahan 1960-an, ia membangun lingkaran kroni pengusaha, dan Liem Sioe Liong menjadi salah satu yang paling berpengaruh. Seperti diungkap Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam "Liem Sioe Liong dan Salim Group" (2016), selama tiga dekade berikutnya, terjalinlah hubungan simbiosis mutualisme. Soeharto memberikan perlindungan dan kemudahan bisnis, sementara Salim Group mengalirkan dukungan finansial kepada Soeharto, keluarganya, serta para kroni. Hasilnya, kedua belah pihak menikmati puncak kejayaan. Sudono Salim menjelma menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia, sementara Soeharto kokoh memegang kendali kekuasaan. Namun, kemegahan ini runtuh dalam sekejap, hanya dalam hitungan hari di bulan Mei 1998.

Tiga pilar utama bisnis Salim Group — perbankan melalui Bank Central Asia (BCA), sektor bangunan dengan Indocement, dan pangan lewat Bogasari serta Indofood — yang dibangun selama puluhan tahun, mulai goyah diterjang badai krisis 1998. BCA, sebagai permata mahkota, mengalami dampak paling parah. Sejarawan M.C. Ricklefs dalam "Sejarah Indonesia Modern" (2009) mencatat, kepanikan massal melanda. Nasabah berbondong-bondong menarik dana, antrean panjang mengular di setiap cabang, menguras habis tabungan mereka. Kepercayaan publik luntur, BCA terancam kolaps. Puncak kehancuran ini terjadi pada Mei 1998.

Ironisnya, hubungan erat dengan Soeharto yang dulu menjadi penopang, kini berubah menjadi bumerang mematikan bagi Sudono Salim. Krisis ekonomi yang merembet ke krisis politik memicu sentimen anti-Soeharto, yang kemudian bergeser menjadi amarah terhadap para "kroninya". Salim, sebagai salah satu konglomerat terkaya dan simbol kedekatan dengan penguasa, menjadi sasaran utama. Pada 13 Mei 1998, unjuk rasa berubah menjadi kerusuhan rasial yang brutal. Jakarta dan sekitarnya dilanda penjarahan, pembakaran, dan kekerasan (Kompas, 14 Mei 1998). Massa yang terprovokasi menargetkan properti dan individu keturunan Tionghoa. Jemma Purdey dalam "Kekerasan Anti-Tionghoa di Indonesia 1996-1999" (2013) menjelaskan bahwa stereotip kekayaan dan kedekatan dengan Soeharto memicu kebencian. Dalam konteks ini, Sudono Salim adalah figur sentral yang paling disorot. Ricklefs menegaskan, "Bank Central Asia milik Liem Sioe Liong merupakan objek serangan utama."

Beruntung, saat gelombang amarah massa memuncak, Sudono Salim beserta istri dan sebagian anaknya berada di Amerika Serikat untuk operasi mata. Di Jakarta, hanya Anthoni Salim yang berjaga di Wisma Indocement, Jalan Sudirman. Anthoni bahkan tak berani pulang ke kediaman ayahnya di Roxy, mengingat kerusuhan juga menyasar permukiman Tionghoa. Kekhawatiran akan keselamatannya sangat tinggi. Prediksi terburuk itu menjadi kenyataan. Pagi 14 Mei, Anthoni menerima kabar mengerikan: rumah ayahnya diserbu sekelompok pemuda beringas, bersenjatakan jeriken berisi bahan bakar dan perkakas. Mereka memaksa masuk ke rumah mewah Liem. Tak berdaya, Anthoni memerintahkan satpam untuk tidak menghalangi, demi menghindari pertumpahan darah. "Dalam sekejap, semua mobil di garasi ludes terbakar, begitu pula seluruh isi rumah. Mereka membakar perabotan, merusak lukisan, mengobrak-abrik kamar, bahkan mencoret-coret dinding dengan kata-kata tak senonoh," kenang Anthoni kepada Richard Borsuk dan Nancy Chng. Tak lama kemudian, kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi dari kediaman Salim. Di jalanan, foto Sudono Salim dilempari batu dan dibakar oleh massa yang diliputi kemarahan (Kompas, 15 Mei 1998). Melihat kondisi Jakarta yang kian memburuk, Anthoni segera memutuskan meninggalkan kantornya, khawatir bernasib sama seperti rumahnya. Ia bergegas ke

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post