Ekonesia – Bank Indonesia (BI) menguak fakta menarik terkait stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global. Kebijakan pemerintah yang teguh mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite, ternyata menjadi kunci vital yang menjaga rupiah tetap perkasa. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam forum Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Baca juga: Rahasia Sukses Istri Nelayan Banten Pasca Tsunami!
Destry menjelaskan bahwa langkah pemerintah ini sangat krusial, terutama saat dunia dihadapkan pada fluktuasi harga minyak mentah yang ekstrem. Eskalasi konflik di Timur Tengah, melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, telah mengganggu jalur distribusi energi global yang sangat penting, yakni Selat Hormuz. Dalam kondisi demikian, kemampuan pemerintah menjaga harga BBM domestik tetap stabil menjadi penopang kuat bagi mata uang Garuda.

Namun, Destry juga mengakui bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini tidak berdiri sendiri. Penguatan indeks dolar AS (DXY) menjadi pemicu utama pelemahan mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia. "Kita tidak sendirian. Sejak serangan di Iran, banyak negara mengalami depresiasi signifikan. Rupiah sendiri telah terdepresiasi 1,91% secara year-to-date," ungkap Destry, menegaskan bahwa fenomena ini adalah tren global.
Baca juga: Gaji Rp1.000? Kasus Mengejutkan di Karanganyar!
Pada awal pekan perdagangan, Senin (13/4/2026), rupiah memang sempat menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di level Rp17.100 per dolar AS, terdepresiasi 0,09%. Tren negatif ini melanjutkan kondisi penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026) lalu, saat rupiah juga melemah tipis 0,03% ke posisi Rp17.085 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melonjak 0,37% ke 99,010 pada pukul 09.00 WIB. Kenaikan dolar AS ini didorong oleh kembali membanjirnya permintaan aset safe haven. Hal ini menyusul kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran yang telah memperpanjang bayang-bayang ketidakpastian pasar hingga tujuh pekan lamanya.


Tinggalkan komentar