Jebakan Maut Bitcoin Mengintai Investor Waspada

Agus Riyadi

20 Februari 2026

3
Min Read

Ekonesia – Pergerakan harga Bitcoin terus menjadi sorotan utama di kalangan investor kripto. Setelah berulang kali gagal menembus dan bertahan di atas level psikologis US$70.000, aset digital paling populer ini kini bergerak di bawah ambang tersebut, memicu perdebatan sengit mengenai arah selanjutnya. Apakah ini fondasi untuk lonjakan baru atau justru sinyal bahaya yang mengintai?

Sebagian pelaku pasar masih optimistis melihat struktur harga saat ini sebagai pijakan kuat untuk kenaikan berkelanjutan. Namun, tidak sedikit analis yang menyuarakan peringatan keras. Mereka khawatir, setiap reli yang terjadi justru berpotensi memicu gelombang penjualan masif, menjebak investor dalam "bull trap" yang mematikan.

Jebakan Maut Bitcoin Mengintai Investor Waspada
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Salah satu suara kehati-hatian datang dari analis kripto Sherlock. Ia menyoroti kisaran US$72.000 hingga US$76.000 sebagai "zona pembantaian" yang sangat berbahaya bagi para pemegang Bitcoin. Menurut Sherlock, area ini berpotensi menjadi titik balik di mana tekanan jual akan mendominasi.

Kekhawatiran Sherlock bukan tanpa dasar. Ia menunjuk pada kepemilikan Bitcoin oleh perusahaan Strategy, yang memegang lebih dari 714.644 BTC. Rata-rata harga akuisisi mereka berada di kisaran US$76.052. Dengan harga Bitcoin saat ini di sekitar US$68.000, Strategy diperkirakan mengalami kerugian yang belum terealisasi mencapai US$5,7 miliar.

Setiap kenaikan harga menuju US$74.000 hingga US$76.000 akan membawa posisi Strategy mendekati titik balik modal mereka. Secara historis, level impas seringkali menjadi pemicu bagi investor besar untuk mengurangi eksposur atau bahkan menjual kepemilikan mereka. Oleh karena itu, area US$76.000 menjadi sangat krusial karena bertepatan dengan harga masuk rata-rata Strategy, yang bisa memicu aksi jual signifikan.

Meskipun demikian, Strategy sendiri telah berulang kali menegaskan komitmennya untuk tidak menjual Bitcoin mereka, bahkan menyatakan kesiapan neraca keuangan mereka untuk menghadapi penurunan tajam hingga di bawah US$10.000. Namun, potensi tekanan jual dari level psikologis ini tetap menjadi perhatian.

Selain Strategy, tekanan tambahan juga datang dari produk Spot Bitcoin ETF. Saat ini, sekitar 1,28 juta BTC terkunci dalam dana-dana tersebut, dengan estimasi harga masuk rata-rata investor di kisaran US$84.000 hingga US$90.000. Sejak akhir tahun 2025, ETF ini telah mencatat arus keluar bersih lebih dari US$6 miliar, mengindikasikan adanya tekanan jual yang berkelanjutan.

Sherlock juga menambahkan, sekitar 63% dari total kekayaan Bitcoin yang diinvestasikan memiliki basis biaya di atas US$88.000. Ini berarti sebagian besar pembeli pada tahun 2025 masih berada dalam posisi merugi. Jika harga Bitcoin kembali mendekati level tersebut, ada risiko besar bahwa investor akan memanfaatkan kesempatan untuk keluar, menjadikan reli tersebut sebagai "jebakan banteng" atau bull trap.

Dengan demikian, kenaikan ke area US$72.000-US$76.000 berpotensi menjadi jebakan pertama. Jika level ini berhasil dilewati, jebakan berikutnya yang lebih besar mungkin menanti di sekitar US$88.000. Namun, perlu diingat bahwa jika setiap level impas selalu memicu aksi jual, Bitcoin mungkin akan kesulitan untuk menemukan titik dasar harga yang stabil.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post