Harta Bos Labubu Lenyap Rp45 T Saham Anjlok Parah

Agus Riyadi

29 Maret 2026

3
Min Read

Ekonesia – Kabar mengejutkan datang dari dunia bisnis mainan global Wang Ning pendiri Pop Mart perusahaan di balik fenomena boneka monster Labubu harus menelan pil pahit. Kekayaannya amblas hingga Rp4587 triliun atau setara US$27 miliar setelah saham perusahaannya di bursa Hong Kong terjun bebas lebih dari 22 persen.

Kemerosotan fantastis ini terjadi setelah Pop Mart merilis laporan kinerja tahunan 2025. Akibatnya nilai aset bersih Wang Ning yang sebagian besar terikat pada kepemilikan sahamnya kini menyusut menjadi Rp23107 triliun atau sekitar US$136 miliar.

Harta Bos Labubu Lenyap Rp45 T Saham Anjlok Parah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ironisnya penurunan kekayaan ini terjadi di tengah performa finansial perusahaan yang sebenarnya cukup mengesankan. Sepanjang tahun 2025 Pop Mart mencatat lonjakan penjualan sebesar 1847 persen secara tahunan mencapai 371 miliar yuan atau US$54 miliar. Laba bersihnya pun meroket hampir empat kali lipat menyentuh angka 13 miliar yuan.

Namun para investor tampaknya lebih menyoroti sinyal perlambatan pertumbuhan terutama di pasar luar negeri pada kuartal terakhir tahun tersebut. Ke Yan kepala riset DZT Research di Singapura menyoroti adanya perlambatan signifikan dalam ekspansi di luar Tiongkok dibandingkan kuartal ketiga yang kala itu mencatat kenaikan penjualan sekitar 245 persen.

Jeff Zhang seorang analis dari Morningstar menambahkan bahwa pendapatan dan laba perusahaan ternyata di bawah ekspektasi para analis. Ini memicu kekhawatiran serius tentang kekuatan jangka panjang kekayaan intelektual inti Pop Mart. Lebih lanjut Zhang menggarisbawahi keputusan Pop Mart memangkas rasio pembayaran dividen menjadi 25 persen pada 2025 dari 35 persen pada 2024 sebagai poin negatif. Risiko pelaksanaan yang tinggi juga membayangi upaya perusahaan memperluas bisnis lisensi dan operasi taman hiburan.

Selama ini popularitas global Labubu karakter bergigi ompong yang unik menjadi motor utama pertumbuhan Pop Mart. Namun perusahaan kini berupaya keras mendiversifikasi portofolio kekayaan intelektualnya. Mereka mulai mempromosikan karakter baru seperti Twinkle Twinkle agar dapat berdiri sendiri tanpa harus menggantikan posisi Labubu. Wang Ning CEO sekaligus ketua perusahaan menegaskan bahwa Pop Mart memiliki lebih dari sekadar Labubu.

Ia secara terbuka mengakui tantangan dalam mempertahankan laju ekspansi yang begitu cepat. Wang Ning menganalogikan pengalaman ini seperti seorang pembalap pemula yang tiba-tiba dilemparkan ke sirkuit F1 di mana baik pembalap maupun mobil berada di bawah tekanan luar biasa. Ke depan Pop Mart menargetkan pertumbuhan pendapatan minimal 20 persen tahun ini namun Wang Ning menekankan profitabilitas tidak akan dikorbankan demi pertumbuhan agresif.

Sebagai bagian dari strategi ekspansi Pop Mart juga akan merambah kategori produk baru seperti peralatan rumah tangga yang diperkirakan meluncur bulan depan.

Didirikan pada tahun 2010 oleh Wang Ning yang kala itu berusia 23 tahun sebagai toko mainan kecil di Tiongkok Pop Mart melejit berkat Labubu. Karakter yang dianggap jelek tapi imut ini dengan cepat menjadi IP terlaris perusahaan di seluruh dunia. Puncak ketenaran Labubu terjadi pada tahun 2024 ketika Lisa Blackpink membagikan foto mainan tersebut kepada lebih dari 100 juta pengikut Instagramnya mendorongnya ke panggung global.

Sebelum kemerosotan ini Wang Ning sempat masuk dalam daftar 10 orang terkaya di Tiongkok tahun lalu dengan kekayaan bersih mencapai US$275 miliar pada akhir Agustus. Kala itu kapitalisasi pasar Pop Mart menyentuh angka sekitar US$56 miliar. Namun sejak saat itu saham perusahaan dan kekayaan sang taipan terus menyusut seiring dengan tanda-tanda meredupnya popularitas Labubu.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post