Ekonesia – Pasar komoditas global kembali bergejolak harga minyak dunia terpantau menguat pada perdagangan Jumat pagi 10 April 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah memanasnya ketegangan geopolitik yang terus menjadi sorotan utama para pelaku pasar.
Baca juga: Jember Bebas Antre BBM! Pasokan Dipompa 2.000 KL/Hari
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv per pukul 09:45 WIB minyak jenis Brent diperdagangkan di level 9662 dolar AS per barel sementara West Texas Intermediate WTI mencapai 9884 dolar AS per barel. Penguatan ini muncul setelah harga sempat mengalami koreksi mendalam dari puncaknya di kisaran 109 dolar AS pada awal pekan lalu. Dalam empat hari terakhir Brent sempat anjlok dari 10977 dolar AS pada 6 April menjadi 9475 dolar AS pada 8 April sebelum perlahan bangkit kembali. WTI bahkan sempat menyentuh 11295 dolar AS pada 7 April lalu tergelincir cepat ke 9441 dolar AS sehari setelahnya. Fluktuasi ekstrem ini menunjukkan volatilitas tinggi dengan rentang lebih dari 15 dolar AS hanya dalam hitungan hari.

Pemicu utama gejolak ini adalah serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi yang dilaporkan memangkas produksi sekitar 600 ribu barel per hari. Selain itu pasokan minyak melalui pipa East-West juga terganggu hingga 700 ribu barel per hari. Selama hampir enam pekan konflik berlangsung diperkirakan 24 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak tidak beroperasi akibat kerusakan infrastruktur vital di kawasan Teluk.
Baca juga: Manado Jadi Gerbang Digital Dunia!
Di sisi lain Selat Hormuz urat nadi distribusi minyak global masih belum kembali normal. Jalur krusial ini praktis lumpuh sejak konflik di kawasan tersebut memanas pada akhir Februari. Para pelaku pasar kini mengawasi pergerakan kapal tanker dengan cermat terutama menjelang pembicaraan lanjutan yang dimediasi oleh Pakistan. Iran sendiri sempat melontarkan gagasan untuk mengenakan biaya lintasan kapal sebuah rencana yang langsung ditolak keras oleh negara-negara Barat dan lembaga pelayaran internasional.
Meskipun gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran sempat memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasar bayang-bayang ketidakpastian masih menyelimuti. Aktivitas militer yang terus berlangsung menjaga faktor risiko tetap tinggi dalam harga minyak. Analis memperkirakan dalam skenario terburuk harga bisa melonjak jauh lebih tinggi apabila aliran dari Selat Hormuz tetap tertahan pada level saat ini.



Tinggalkan komentar