Harga Minyak Anjlok Drastis Akibat Kejutan Ini

Agus Riyadi

6 Januari 2026

3
Min Read

Ekonesia – Pasar minyak dunia kembali bergejolak, ditandai dengan penurunan harga signifikan pada perdagangan Selasa 6 Januari 2025. Kekhawatiran akan lonjakan pasokan global, di tengah permintaan yang masih lesu, menjadi pemicu utama gejolak ini. Sebuah perkembangan geopolitik mengejutkan dari Amerika Latin kini menjadi sorotan, berpotensi membanjiri pasar dengan jutaan barel minyak tambahan.

Melansir data terbaru, harga minyak mentah Brent (LCOc1) tercatat di level US$61,48 per barel, merosot dari US$61,76 pada penutupan sesi sebelumnya. Senada, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) (CLc1) juga terkoreksi menjadi US$57,99 per barel, dari US$58,32. Koreksi ini memperpanjang tren pelemahan yang telah terlihat sejak akhir Desember, memupus harapan akan reli harga yang stabil di awal tahun.

Harga Minyak Anjlok Drastis Akibat Kejutan Ini
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Arah pasar yang rapuh ini mencerminkan kegagalan reli akhir tahun untuk bertahan, saat pasar kembali dihadapkan pada isu struktural: ketidakseimbangan antara pasokan yang melimpah ruah dan konsumsi global yang belum pulih sepenuhnya. Pemicu terbaru datang dari peristiwa dramatis di Venezuela, di mana penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump, memicu spekulasi pencabutan sanksi dan embargo minyak.

Jika sanksi tersebut benar-benar dicabut, minyak Venezuela yang selama bertahun-tahun terisolasi berpotensi kembali mengalir deras ke pasar global. Venezuela, sebagai anggota pendiri OPEC dan pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, dengan estimasi 303 miliar barel, bukanlah pemain kecil. Meskipun produksinya sempat anjlok akibat sanksi dan minimnya investasi, analis memperkirakan output bisa melonjak hingga 500 ribu barel per hari dalam dua tahun ke depan, jika stabilitas politik terjaga dan modal asing kembali masuk.

Tambahan pasokan dari Venezuela ini akan menjadi beban berat bagi pasar yang sudah kelebihan suplai. Setiap upaya kenaikan harga yang singkat, seperti yang terjadi di sesi sebelumnya pasca kabar penangkapan Maduro, dengan cepat memudar ketika fokus kembali pada neraca pasokan global yang semakin tidak seimbang. Para investor kini memilih bersikap defensif, lebih mempercayai skenario pasokan berlimpah ketimbang pemulihan permintaan.

Bagi aliansi OPEC+ yang dipimpin Arab Saudi, situasi ini menghadirkan tantangan rumit. Kartel tersebut selama ini berupaya menjaga keseimbangan pasar melalui kuota produksi. Namun, jika minyak Venezuela benar-benar kembali membanjiri pasar, ruang gerak OPEC+ untuk menahan harga akan semakin sempit. Beberapa analis bahkan memprediksi OPEC+ mungkin harus kembali memangkas produksi lebih lanjut agar harga Brent tidak terperosok jauh di bawah kisaran US$55-60 per barel.

Survei Reuters pada Desember lalu telah mengindikasikan bahwa harga minyak akan terus berada di bawah tekanan sepanjang tahun 2026, lantaran pertumbuhan produksi global diproyeksikan melampaui pertumbuhan permintaan. Isu Venezuela ini hanya mempercepat proses tersebut, menegaskan bahwa selama bayang-bayang kelebihan suplai masih menghantui, setiap reli harga minyak berisiko cepat berubah menjadi koreksi tajam.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post