Harga Emas Terancam Anjlok Pekan Depan Ada Apa

Agus Riyadi

11 Januari 2026

2
Min Read

Ekonesia – Para investor emas patut waspada. Logam mulia ini diprediksi akan menghadapi tekanan signifikan yang berpotensi memicu penurunan harga pada pekan mendatang. Pemicu utamanya adalah proses pembobotan ulang atau rebalancing pada Indeks Komoditas Bloomberg (BCOM) yang dijadwalkan berlangsung pada Januari 2026.

Menurut Michael Hsueh, seorang analis terkemuka dari Deutsche Bank, emas dan perak termasuk di antara komoditas yang kemungkinan besar akan merasakan dampak negatif dari penyesuaian indeks BCOM tersebut. "Selain aluminium, emas dan perak diperkirakan akan terpengaruh secara negatif. Sebaliknya, komoditas seperti kakao, minyak mentah, gas alam, dan minyak gas justru berpotensi mengalami dampak positif," jelas Hsueh, seperti dikutip dari Investing. Proses penyeimbangan ulang ini akan dilaksanakan mulai tanggal 9 hingga 15 Januari 2026.

Harga Emas Terancam Anjlok Pekan Depan Ada Apa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Penyesuaian bobot ini mencerminkan pengurangan drastis porsi emas dalam indeks. Aturan BCOM membatasi eksposur terhadap satu komoditas tunggal guna menjaga diversifikasi portofolio. Bobot target emas dalam BCOM akan menyusut dari 20,4% menjadi 14,9%. Hal ini sesuai dengan ketentuan indeks yang menetapkan bahwa tidak ada satu komoditas pun yang boleh melebihi bobot 15 persen.

Hsueh memperkirakan, rebalancing ini akan berimplikasi pada penjualan sekitar 2,4 juta ons troy emas selama periode lima hari tersebut. Berdasarkan sensitivitas historis yang diamati pada produk yang diperdagangkan di bursa, arus penjualan sebesar ini bisa memicu penurunan harga emas sekitar 2,5 hingga 3,0 persen. Besaran persentase ini tergantung pada periode pengamatan dan apakah perubahan dihitung secara mingguan atau bulanan.

Tak hanya emas, perak juga diproyeksikan akan menghadapi dampak serupa. Jika diukur berdasarkan minat terbuka (open interest) dan volume perdagangan harian rata-rata, emas dan perak termasuk dalam daftar komoditas dengan pasokan rebalancing terbesar yang diprediksi.

Meskipun demikian, Hsueh mengingatkan bahwa hubungan antara penyeimbangan ulang indeks dan pergerakan harga tidak selalu konsisten dari tahun ke tahun. Mengulas kembali lima peristiwa rebalancing terakhir, ia menyoroti bahwa perubahan bobot yang signifikan umumnya selaras dengan pergerakan harga ke arah yang sama antara tahun 2021 hingga 2024. Namun, momen penyeimbangan pada tahun 2025 menjadi pengecualian, di mana pengurangan bobot emas justru diiringi dengan kenaikan harga logam mulia tersebut.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post