Ekspor Beras 2000 Ton: Amankah?

Rachmad

16 Mei 2025

2
Min Read
Ekspor Beras 2000 Ton: Amankah?

TeraNews Bisnis – Rencana pemerintah mengekspor 2.000 ton beras per bulan ke Malaysia menimbulkan pertanyaan. Ketua Umum Perpadi, Sutarto Alimoeso, menilai volume tersebut tak mengkhawatirkan, namun mengingatkan pentingnya perhitungan surplus pasca panen raya Juli-Agustus 2025. Pasalnya, pasokan gabah saat ini mulai menipis, terbukti dari harga gabah di tingkat penggilingan yang melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP). "Harga gabah di atas HPP menunjukkan surplus kita mulai turun," tegas Sutarto dalam keterangannya di Badan Pangan Nasional, Jakarta Selatan, Jumat (16/5).

Kondisi ini membuat penggilingan kesulitan memenuhi produksi, sementara pasar beras masih lesu. Perhitungan stok akurat, menurutnya, baru bisa dilakukan setelah panen berikutnya. "Kita perlu tahu stok akhir tahun, dan itu baru bisa dihitung setelah Juli," tambahnya. Kenaikan harga gabah yang terjadi saat ini, menurut Sutarto, tak lepas dari penurunan produksi. Tren ini berpotensi berlanjut, tergantung dinamika pasokan dan permintaan.

Ekspor Beras 2000 Ton: Amankah?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Ia juga membandingkan harga beras Indonesia dengan harga beras Thai 5 Percent Broken Rice di pasar global, yang hanya sekitar US$428 per ton (sekitar Rp7 juta/ton). "Harga beras kita jauh di atas harga dunia," jelasnya. Meskipun 2.000 ton terbilang kecil dibanding kebutuhan nasional 30 juta ton per tahun, Sutarto menekankan pentingnya kejelasan jenis beras yang akan diekspor. Ia menyarankan keputusan ekspor ditunda hingga pasca panen kedua, memastikan stok aman. "Persaingan global ketat, Indonesia sebenarnya pasar beras, tapi kita tak impor, artinya pasar dunia surplus," imbuhnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian menyatakan kesiapan ekspor beras ke Malaysia atas arahan Presiden, dengan volume 2.000 ton per bulan. Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengatakan rencana tersebut telah dibahas dengan pihak Malaysia dan calon importir. "Malaysia mengambil beras dari banyak tempat, jadi 2.000 ton per bulan yang dibahas," ujar Sudaryono, mengutip pernyataan sebelumnya. (skt/sfr)

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post