Ekonesia – Pekan ke-21 Bundesliga menyajikan duel sengit antara Union Berlin dan Eintracht Frankfurt yang berakhir imbang 1-1. Laga penuh drama ini menjadi sorotan utama, terutama karena menandai penampilan perdana Albert Riera sebagai juru taktik baru Frankfurt. Sebuah gol telat dan penalti kontroversial di menit-menit akhir mengubah total jalannya pertandingan, membuat debut Riera belum berbuah kemenangan.
Baca juga: Rahasia Sukses PMI Jepang: Bank Mandiri Bantu Jadi Juragan!
Frankfurt datang ke laga ini dengan beban berat, belum pernah meraih poin penuh dalam enam pertandingan terakhir. Di sisi lain, Union Berlin juga menghadapi tekanan serupa, gagal menang di lima laga sejak jeda musim dingin. Suasana di stadion semakin semarak dengan perayaan ulang tahun ke-60 Union Berlin, diwarnai koreografi megah dari suporter yang sempat membuat laga tertunda sejenak akibat asap tebal.

Sejak peluit awal dibunyikan, Frankfurt di bawah arahan Riera langsung menunjukkan identitas permainan berbasis penguasaan bola. Mereka mendominasi jalannya babak pertama dengan sekitar 70 persen kontrol bola. Namun, dominasi tersebut belum mampu menembus rapatnya barisan pertahanan Union, sehingga minim tercipta peluang emas. Ritsu Doan beberapa kali mencoba peruntungan dari sisi kanan, sementara tendangan jarak jauh Farès Chaïbi di menit 39 masih melenceng. Menjelang jeda, Union mulai menemukan ritme dan hampir unggul lewat voli melengkung Aljoscha Kemlein yang memaksa kiper Kauã Santos melakukan penyelamatan krusial, diikuti peluang Ilyas Ansah yang melebar tipis.
Baca juga: Tambang Raja Ampat Aman? Izin Tak Berubah!
Memasuki paruh kedua, intensitas permainan meningkat drastis. Frankfurt nyaris memecah kebuntuan di menit 57 melalui Oscar Højlund, namun sepakannya dari jarak dekat masih melebar. Union membalas dengan sundulan Leopold Querfeld yang tepat mengarah ke Santos, disusul tembakan keras Derrick Köhn yang membentur tiang gawang di menit 76. Saat laga seolah akan berakhir tanpa gol, kejutan datang di menit 84. Berawal dari tendangan akrobatik Mahmoud Dahoud yang terblok, bola jatuh ke kaki Nathaniel Brown. Bek kiri itu tanpa ragu melepaskan tembakan keras yang tak terjangkau Frederik Rønnow, membawa Frankfurt memimpin.
Namun, keunggulan Frankfurt hanya sesaat. Tiga menit berselang, drama kembali terjadi. Højlund diganjar kartu kuning kedua setelah melanggar Rani Khedira di kotak terlarang. Wasit menunjuk titik putih, dan Leopold Querfeld yang maju sebagai algojo sukses menunaikan tugasnya, menyamakan kedudukan menjadi 1-1, meski Santos sempat menyentuh bola. Skor imbang bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Meski hasil akhir tidak sesuai harapan, Nathaniel Brown tampil bersinar dan dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan. Golnya, yang dicetak dengan probabilitas gol minim (xG 0,08) namun melesat dengan kecepatan 105,51 km/jam ke sudut bawah gawang, menunjukkan kualitas penyelesaian yang luar biasa. Selain mencetak gol, Brown juga aktif membantu serangan dan solid dalam bertahan, mencatatkan kecepatan tertinggi kedua di lapangan. Secara statistik, Union Berlin sebenarnya menciptakan peluang lebih banyak dengan nilai xG 1,76 berbanding 0,48 milik Frankfurt, namun kedua tim harus puas berbagi satu angka.
Hasil ini memperpanjang periode sulit Frankfurt dalam mencari kemenangan, sementara Union Berlin berhasil mengamankan satu poin penting untuk menjaga posisi mereka di klasemen Bundesliga.











Tinggalkan komentar