Data China Bikin Bursa Asia Dag Dig Dug

Agus Riyadi

10 Januari 2026

2
Min Read

Ekonesia – Gelombang ketidakpastian menyelimuti bursa saham di kawasan Asia-Pasifik pada perdagangan Jumat ini, saat para investor menahan napas menanti pengumuman data inflasi krusial dari Tiongkok. Ekspektasi pasar terhadap angka-angka ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut menjadi penentu arah pergerakan harga saham di seluruh regional.

Para ekonom, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Reuters, memproyeksikan bahwa inflasi harga konsumen (CPI) Tiongkok untuk bulan Desember akan menyentuh angka 0,8% secara tahunan. Angka ini menunjukkan sedikit peningkatan dari capaian 0,7% pada bulan November sebelumnya, mengindikasikan adanya tekanan harga yang mulai terasa.

Data China Bikin Bursa Asia Dag Dig Dug
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di Jepang, optimisme sempat mewarnai lantai bursa. Indeks acuan Nikkei 225 berhasil menguat 0,54% pada penutupan perdagangan, diikuti oleh kenaikan Topix sebesar 0,46%. Namun, sentimen berbeda terlihat di Korea Selatan, di mana indeks Kospi tergelincir 0,41% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga terkoreksi 0,21%.

Sementara itu, pasar saham Australia cenderung stagnan, dengan indeks S&P/ASX 200 bergerak tipis di bawah garis datar. Perhatian khusus tertuju pada saham raksasa pertambangan Rio Tinto yang anjlok hampir 5%. Penurunan ini terjadi setelah perusahaan mengumumkan telah memulai diskusi awal mengenai potensi akuisisi dengan Glencore, sebuah kesepakatan yang jika terealisasi dapat melahirkan perusahaan tambang raksasa senilai hampir 207 miliar dolar AS.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng diprediksi akan dibuka lebih tinggi, tercermin dari kontrak berjangka yang diperdagangkan di level 26.312, melampaui penutupan sebelumnya di 26.149,31. Investor juga memantau ketat pergerakan saham Hang Seng Bank, menyusul persetujuan para pemegang saham terhadap rencana privatisasi yang diajukan oleh pemegang saham mayoritas, HSBC.

Di sisi lain, kontrak berjangka saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan yang cenderung stabil di awal perdagangan Asia. Hal ini terjadi menjelang rilis data ketenagakerjaan AS untuk bulan Desember, serta antisipasi terhadap kemungkinan putusan Mahkamah Agung terkait kebijakan tarif. Keputusan tersebut berpotensi besar memengaruhi arah kebijakan perdagangan dan kondisi fiskal Amerika Serikat di tengah era kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Pada sesi perdagangan semalam di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average berhasil mencatatkan penguatan, sementara Nasdaq Composite justru tertekan. Fenomena ini diakibatkan oleh pergeseran investasi (rotasi investor) yang keluar dari saham-saham teknologi. Dow naik 270,03 poin atau 0,55% mencapai 49.266,11. Sebaliknya, Nasdaq turun 0,44% ke 23.480,02, dan S&P 500 hanya naik tipis 0,01% ke 6.921,46, dengan sektor teknologi informasi menjadi yang paling lemah setelah merosot lebih dari 1%.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post