BWS Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Agus Riyadi

9 Januari 2026

3
Min Read

Ekonesia – Perbankan nasional terus menunjukkan perannya sebagai tulang punggung ekonomi, aktif menyalurkan pembiayaan korporasi demi menggerakkan roda bisnis. Di tengah gejolak ekonomi global, dukungan finansial bagi perusahaan besar dan menengah ke atas tetap menjadi krusial, baik untuk operasional harian, investasi jangka panjang, maupun ekspansi usaha.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid, mencapai 5,04% pada kuartal ketiga 2025, menjadi pemicu utama tingginya permintaan kredit korporasi. Proyeksi Kementerian Keuangan yang optimistis, menargetkan pertumbuhan 5,2% di tahun 2025 dan akselerasi hingga 5,4% pada 2026, semakin mempertegas urgensi dukungan perbankan. Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menekankan vitalnya pembiayaan korporasi dalam menjaga stabilitas dan kesinambungan aktivitas ekonomi, khususnya di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.

BWS Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut Aditya, kebutuhan pembiayaan dari sektor korporasi kerap berpusat pada pengelolaan arus kas, restrukturisasi operasional, hingga penyesuaian strategi ekspansi bisnis. Dalam kondisi demikian, bank-bank cenderung mengadopsi pendekatan selektif dalam menyalurkan kredit. Mereka cermat menimbang prospek usaha dan kapasitas pembayaran calon debitur, sebuah langkah strategis untuk menyeimbangkan fungsi intermediasi dengan manajemen risiko yang prudent.

"Pembiayaan korporasi esensial bagi dunia usaha, terutama untuk menopang produksi dan investasi," ungkap Aditya, Kamis (8/1/2026). Ia menambahkan, "Namun, penyalurannya harus mempertimbangkan kondisi ekonomi dan karakteristik masing-masing sektor." PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS) menjadi salah satu institusi keuangan yang aktif dalam segmen ini, menawarkan skema pembiayaan korporasi yang disesuaikan dengan beragam kebutuhan sektor ekonomi.

BWS memahami bahwa kunci sukses dalam pembiayaan korporat saat ini adalah menemukan titik keseimbangan antara agresivitas ekspansi kredit dan ketatnya pengendalian risiko. "Bank yang mampu menjaga kualitas portofolio sambil terus mendukung kebutuhan dunia usaha akan memiliki fondasi yang lebih kokoh dan daya tahan yang superior," jelas perwakilan BWS.

Hingga akhir September 2025, total kredit yang berhasil disalurkan BWS mencapai angka impresif Rp46,11 triliun. Mayoritas signifikan dari angka tersebut berasal dari segmen non-UMKM, termasuk pembiayaan korporasi dan komersial, menunjukkan fokus bank pada segmen ini. Pada periode yang sama, total aset bank tercatat sebesar Rp59,63 triliun.

Kesehatan finansial BWS juga terlihat dari rasio kecukupan modal (KPMM) yang mencapai 32,25%, jauh melampaui batas minimum yang ditetapkan regulator. Likuiditas bank pun terjaga sangat baik, ditunjukkan oleh Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 167,16% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 108,57%. Angka-angka ini memberikan ruang gerak yang luas bagi BWS untuk mendukung pembiayaan jangka menengah dan panjang.

Meski aktif menyalurkan kredit, BWS berhasil mempertahankan rasio kredit bermasalah (NPL) pada level yang aman. NPL gross tercatat 2,35% dan NPL net sebesar 1,28%, keduanya masih berada dalam batas toleransi industri perbankan nasional, mengindikasikan manajemen risiko yang efektif.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post