Ekonesia – Performa Vinicius Junior belakangan ini menjadi sorotan tajam di Santiago Bernabeu. Hampir 500 hari setelah ia gagal meraih trofi Ballon d’Or, sang bintang Brasil menunjukkan penurunan yang mengkhawatirkan. Jelas terlihat bahwa Vinicius yang tampil di lapangan saat ini bukanlah sosok yang sama dengan pemain yang nyaris menggenggam penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepak bola pada tahun 2024.
Baca juga: Dompu Pecahkan Rekor Dunia! 21 Ribu Orang Menari
Pemain sayap berusia 25 tahun itu harus puas berada di posisi kedua dalam peringkat Ballon d’Or 2024. Padahal, kala itu ia tampak tak terbendung, berada di puncak kekuatannya. Kini, angka-angka dan penampilan yang dibukukannya justru menggambarkan situasi yang sangat berbeda, memicu kekhawatiran di kalangan staf pelatih dan penggemar Real Madrid.

Pada 24 Oktober 2024, Vinicius harus menyaksikan Rodri, gelandang Manchester City, mengangkat trofi Ballon d’Or. Momen pahit itu sangat ia harapkan, mengingat musim yang baru saja dilaluinya begitu fenomenal. Ia menjadi motor utama Real Madrid meraih gelar La Liga dan Liga Champions, bahkan mencetak gol krusial di final kompetisi Eropa. Musim itu ditutup dengan statistik luar biasa: 24 gol dan sembilan assist di semua ajang.
Baca juga: Kompor Induksi Jadi Andalan! Masak Sehat, Hemat, Cepat!
Janji yang Belum Terpenuhi
Setelah kekecewaan tersebut, Vinicius sempat berjanji untuk meningkatkan level permainannya dan kembali lebih kuat, di tengah spekulasi ketertarikan dari klub-klub Arab Saudi. Namun, hampir 500 hari berselang, janji itu belum terwujud. Sebaliknya, performanya justru merosot tajam.
Penurunan paling mencolok terlihat dari produktivitas golnya. Vinicius yang dulu mampu mencetak gol setiap dua pertandingan, kini hanya bisa membukukan satu gol dalam setiap empat laga. Kemampuan dribelnya, yang dulunya selalu menjadi senjata mematikan, juga mengalami kemunduran. Ia kini melakukan dribel sekitar 25 persen lebih sedikit dari sebelumnya. Meskipun tingkat keberhasilannya stabil di angka 50 persen, volume yang berkurang membuatnya kurang menentukan di lapangan.
Kontribusi umpan silang Vinicius bagi skuad Los Blancos juga memudar, dengan penurunan sekitar 20 persen. Menariknya, jumlah assist-nya tetap stabil, di mana ia rata-rata masih mampu menyumbangkan satu assist dalam setiap tiga pertandingan.
Namun, yang paling merugikan Real Madrid adalah dampak langsung gol-golnya terhadap perolehan poin tim. Sebelum malam penganugerahan Ballon d’Or, gol-gol Vinicius secara langsung bisa menyumbang sekitar 20 poin bagi timnya. Sejak saat itu, angka tersebut anjlok drastis menjadi hanya delapan poin.
Real Madrid tentu berharap Vinicius dapat segera bangkit dan mengembalikan performa terbaiknya seperti sebelum kegagalan meraih Ballon d’Or. Meskipun tantangan ini mungkin berat bagi sang pemain, ia tetap menjadi andalan utama Los Blancos. Ekonesia.com meyakini bahwa Vinicius memiliki potensi untuk kembali ke performa aslinya dan menjadi pembeda bagi timnya.











Tinggalkan komentar