Ekonesia – Kekalahan pahit kembali menimpa raksasa Catalan, Barcelona, saat melawat ke markas Girona. Skor 1-2 di Stadion Montilivi bukan hanya menambah daftar panjang hasil mengecewakan musim ini, namun juga menyoroti masalah krusial yang kini menghantui tim asuhan Hansi Flick: kutukan penalti yang tak kunjung usai. Puncaknya, wonderkid Lamine Yamal turut merasakan getirnya kegagalan dari titik putih.
Baca juga: Rumah Impian UMKM BNI Kucur Dana Segar
Drama penalti terjadi di penghujung babak pertama. Wasit menunjuk titik putih setelah Daley Blind dianggap melanggar Dani Olmo di area terlarang. Yamal, yang diharapkan bisa membuka keunggulan, maju sebagai eksekutor. Namun, sepakannya hanya membentur tiang kiri gawang yang dijaga Paulo Gazzaniga, membuat peluang emas terbuang sia-sia.

Insiden ini semakin memperparah rekor buruk Barcelona dalam mengeksekusi penalti di La Liga musim ini. Tercatat, Blaugrana telah menyia-nyiakan tiga dari total tujuh kesempatan penalti. Catatan ini menempatkan mereka sebagai tim dengan kegagalan penalti terbanyak, setara dengan Valencia yang juga luput tiga kali, meski dari lima percobaan. Sebelumnya, bomber senior Robert Lewandowski juga pernah gagal dua kali, yaitu saat melawan Sevilla pada Oktober dan Atletico Madrid pada Desember.
Baca juga: Beras SPHP di Serang Aman? Bulog Ungkap Fakta Ini!
Pertandingan derby Catalunya itu sendiri berjalan dengan tensi tinggi dan penuh gejolak. Setelah jeda, Pau Cubarsi sempat membawa Barcelona memimpin, namun keunggulan itu tak bertahan lama setelah Thomas Lemar dengan cepat menyamakan kedudukan. Kontroversi memuncak di menit-menit akhir. Gol kemenangan Girona yang dicetak Fran Beltran di menit ke-86 memicu perdebatan, lantaran diduga ada pelanggaran terhadap Jules Kounde sebelum gol tercipta. Meski demikian, wasit tetap mengesahkan gol tersebut.
Di penghujung laga, Girona harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Joel Roca diganjar kartu merah akibat tekel kerasnya terhadap Yamal. Namun, waktu yang tersisa tidak cukup bagi Barcelona untuk mengubah keadaan.
Di luar semua drama, statistik pertandingan menunjukkan masalah fundamental Barcelona lainnya: dominasi tanpa efektivitas. Mereka melepaskan total 27 tembakan sepanjang laga, namun hanya empat di antaranya yang benar-benar mengancam gawang lawan. Angka ini menjadi sorotan tajam, mengingat ini adalah kali pertama sejak tahun 2015 Barcelona menelan kekalahan di Liga Spanyol meski mencatatkan setidaknya 27 percobaan tembakan. Kala itu, mereka juga takluk 1-2 dari Sevilla.
Performa individu Lamine Yamal juga menjadi perhatian. Selain kegagalan penalti, pemain muda ini hanya mampu menuntaskan dua dari tujuh percobaan dribelnya dan kehilangan bola sebanyak 24 kali, menunjukkan kurangnya efisiensi di lini serang.
Akibat hasil minor ini, posisi Barcelona di peringkat kedua klasemen sementara La Liga semakin terancam. Mereka kini tertinggal dua poin dari Real Madrid, dan selisih tersebut berpotensi melebar menjadi lima poin sebelum laga berikutnya melawan Levante. Kekalahan di Montilivi bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan alarm keras bagi Barcelona untuk segera membenahi masalah penalti dan efektivitas serangan jika mereka masih ingin menjaga asa perburuan gelar juara.











Tinggalkan komentar