Ekonesia – Dunia digegerkan manuver berani Washington. Menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Amerika Serikat secara tegas menyatakan niatnya untuk mengambil alih kendali atas sektor minyak raksasa negara tersebut. Presiden AS bahkan sesumbar industri ini akan "meraup keuntungan besar" di bawah arahan Paman Sam.
Baca juga: Milan Kepincut Guirassy! Dortmund Pasang Harga Bikin Pusing?
Klaim tersebut bukan tanpa dasar. Menurut Washington, industri perminyakan Venezuela telah "gagal total" selama bertahun-tahun, dengan kapasitas produksi yang jauh di bawah potensi sesungguhnya. AS melihat peluang emas untuk merevitalisasi sektor vital ini.

Namun, ambisi ini tak semudah membalik telapak tangan. Para pakar energi memperingatkan, upaya mendongkrak produksi minyak Venezuela akan sangat mahal dan memakan waktu. Energy Aspects, firma riset terkemuka, memperkirakan penambahan produksi 500 ribu barel per hari saja bisa menelan biaya 10 miliar dolar AS dan memakan waktu sekitar dua tahun. Bahkan, untuk peningkatan signifikan, investasi "puluhan miliar dolar selama beberapa tahun" mungkin diperlukan, demikian disampaikan Richard Bronze, kepala geopolitik Energy Aspects.
Baca juga: Rahasia Raup Cuan: Franchise Alfamart, Modal & Estimasi Balik Modal!
Meski peluang terbuka lebar bagi perusahaan minyak AS, mereka juga berpotensi terjerat dalam situasi pelik. Helima Croft, kepala komoditas RBC Capital Markets, dalam analisisnya menyebutkan bahwa tekanan dari pemerintah AS bisa "memaksa mereka mengambil peran semi-pemerintah" dalam upaya pembangunan dan peningkatan kapasitas. Tantangan lain adalah mengurangi dominasi militer dalam industri minyak dan ekonomi Venezuela secara keseluruhan.
Lantas, bagaimana dampaknya terhadap harga minyak global? Meskipun intervensi ini dipastikan menciptakan riak di pasar, para analis sepakat bahwa lonjakan harga yang drastis kemungkinan besar tidak akan terjadi. Venezuela, meski memiliki cadangan besar, saat ini hanyalah produsen relatif kecil. Ditambah lagi, pasar minyak global tengah dibayangi kondisi kelebihan pasokan. Minyak mentah Brent, patokan internasional, bahkan sempat diperdagangkan di level terendah tahun ini. Third Bridge, lembaga riset lain, menegaskan bahwa langkah Washington ini "tidak akan segera memengaruhi harga minyak mentah atau biaya bensin di SPBU."
Ironisnya, Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai lebih dari 300 miliar barel. Namun, negara ini kini berjuang keras untuk memproduksi bahkan satu juta barel per hari, hanya sekitar 1% dari total produksi global. Sebagian besar minyaknya adalah jenis ekstra berat, yang tidak hanya mahal untuk diolah tetapi juga berpotensi lebih mencemari lingkungan. Akibatnya, produksi yang sempat mencapai 2 juta barel per hari pada awal 2010-an kini jauh menurun. Perusahaan minyak negara, PDVSA, lumpuh karena kekurangan investasi dan keahlian. Ladang-ladang minyaknya sudah tua, infrastruktur bobrok, sering terjadi pemadaman listrik, dan maraknya pencurian peralatan, demikian laporan terbaru dari Energy Aspects.
Selama ini, AS telah memberlakukan sanksi ketat terhadap ekspor minyak Venezuela, yang kini sebagian besar dialihkan ke Tiongkok.











Tinggalkan komentar