Ekonesia – Pertarungan sengit di Emirates Stadium berakhir tanpa pemenang saat Arsenal dan Liverpool harus puas berbagi angka nol-nol dalam lanjutan Liga Inggris. Hasil ini memang menjaga posisi The Gunners di puncak klasemen, namun mereka gagal memanfaatkan kesempatan emas untuk memperlebar jarak delapan poin dari para pesaing. Sebaliknya, bagi skuad besutan Arne Slot, satu poin tandang ini terasa begitu krusial, didapat berkat daya juang, penyesuaian taktik cerdas, dan respons luar biasa di babak kedua.
Sejak peluit awal, laga ini lebih banyak diwarnai ketegangan daripada ledakan gol. Arsenal tampil dominan di awal, namun Liverpool justru menutup pertandingan dengan kontrol yang lebih baik. Sayangnya, sorotan utama justru bukan datang dari peluang emas atau gol, melainkan insiden tak elok di penghujung laga.

Arsenal Dominan Tapi Mandul di Lini Serang
Arsenal memulai laga dengan intensitas tinggi. Tekanan mereka terorganisir rapi, aliran bola terjaga, dan Liverpool sempat terkurung di area sendiri sepanjang babak pertama. Dukungan penuh dari publik Emirates menciptakan atmosfer yang seolah menjadi momentum penting bagi sang pemuncak klasemen untuk mengukuhkan posisi di jalur perburuan gelar Liga Inggris.
Namun, dominasi tersebut tak mampu diubah menjadi ancaman nyata. Arsenal memang sering menguasai sisi sayap dan memenangkan perebutan wilayah, tetapi kehadiran di kotak penalti lawan sangat minim. Victor Gyokeres kesulitan memberikan dampak, hanya mencatatkan delapan sentuhan sebelum ditarik keluar pada menit ke-64. Di paruh kedua, kontribusinya bahkan nyaris tak terlihat dengan hanya satu sentuhan.
Situasi ini kembali menyoroti masalah di lini depan Arsenal. Gyokeres memang bukan tipe penyerang dengan keterlibatan tinggi, tetapi ketika gol tak kunjung datang, perannya otomatis dipertanyakan. Sejak pulih dari cedera, ia baru mengemas satu gol dari sepuluh penampilan terakhir, itu pun melalui titik putih saat melawan Everton.
Pelatih Mikel Arteta juga tak punya banyak opsi. Kai Havertz masih menepi, sementara Mikel Merino, yang sempat dicoba lebih maju, kali ini kembali dipasang di lini tengah. Arsenal memang menyebar sumber gol sepanjang musim, tetapi laga seperti ini menunjukkan betapa tipisnya margin di level teratas kompetisi.
Momen Kontroversial di Penghujung Laga
Gambar paling mencolok justru terjadi di menit-menit akhir. Pada masa tambahan waktu, Conor Bradley terjatuh di dekat garis tepi sambil memegangi lututnya dan terlihat kesakitan. Permainan dihentikan, namun emosi keburu memanas.
Gabriel Martinelli terlihat menjatuhkan bola ke arah Bradley yang cedera, lalu mencoba menariknya keluar lapangan saat bek Liverpool itu berusaha tetap berada di atas garis. Reaksi keras langsung muncul. Dominik Szoboszlai, Alexis Mac Allister, dan Ibrahima Konate bergegas mendekat, dorong-dorongan pun tak terhindarkan.
Bradley akhirnya ditandu keluar lapangan dan masuk lorong stadion, menambah kekhawatiran Liverpool soal kondisi pemainnya. Dalam laga yang berjalan keras namun terkendali, tindakan Martinelli menjadi penutup yang kurang elok dan sedikit mengalihkan perhatian dari jalannya pertandingan itu sendiri.
Frimpong Jadi Kunci Pelepas Tekanan Liverpool
Datang ke Emirates dengan kondisi skuad yang terbatas, Liverpool menyadari mereka harus banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik. Tanpa Mohamed Salah, Hugo Ekitike, dan Alexander Isak, Arne Slot memberikan peran sayap kanan yang lebih maju kepada Jeremie Frimpong.
Keputusan itu terbukti masuk akal. Kecepatan Frimpong menjadi jalur pelepas tekanan, terutama di babak pertama saat Arsenal terus menekan. Ia kerap dijadikan target umpan untuk memaksa lini belakang Arsenal mundur.
Salah satu aksinya bahkan memicu kekacauan antara William Saliba dan David Raya, yang berujung pada peluang Bradley yang membentur mistar. Meski demikian, kualitas umpan akhir Frimpong belum konsisten, dan minimnya penyerang murni membuat beberapa umpan silangnya tak menemukan sasaran.
Namun, di laga yang menuntut keberanian membawa bola dan mengulur napas tim, Frimpong tampil sebagai sosok penting bagi Liverpool.
Babak Kedua Milik The Reds
Setelah 25 menit awal yang berat, Liverpool perlahan menemukan ritme. Florian Wirtz yang memulai laga sebagai false nine terlihat kesulitan karena tak ada titik fokus jelas di depan. Namun seiring intensitas Arsenal menurun, tim tamu mulai mengambil alih kendali permainan.
Wirtz kemudian lebih sering turun ke lini tengah, bergerak bebas dan menghubungkan permainan dengan Szoboszlai. Liverpool lebih banyak menguasai bola di babak kedua, dibantu sikap Arsenal yang cenderung menunggu dan mengamankan hasil imbang. Wirtz bahkan sempat merasa layak mendapat penalti usai dilanggar keras oleh Leandro Trossard setelah melewati lawan dengan dribel rapi.
Secara statistik, ancaman Liverpool memang tetap terbatas dengan expected goals hanya 0,36—terendah mereka musim ini. Namun perubahan struktur permainan membuat tim lebih seimbang dan tenang. Dengan memindahkan Wirtz dari peran yang kurang familiar, Slot berhasil mengembalikan kontrol permainan.
Pada akhirnya, hasil imbang ini terasa lebih menguntungkan Liverpool dibanding Arsenal. Satu tim gagal memanfaatkan peluang menjauh, sementara tim lain menunjukkan ketangguhan. Dalam persaingan Liga Inggris yang ditentukan detail kecil, skor kacamata ini bisa saja punya arti besar di akhir musim.











Tinggalkan komentar