Amorim Didepak MU Padahal Tim Sedang Moncer

El-Shinta

7 Januari 2026

2
Min Read

Ekonesia – Keputusan mengejutkan kembali mengguncang Old Trafford. Manchester United secara resmi memecat Ruben Amorim dari kursi pelatih, sebuah langkah yang memicu tanda tanya besar di kalangan penggemar dan pengamat sepak bola. Pasalnya, pemecatan ini terjadi justru ketika tim mulai menunjukkan performa positif dan menanjak di klasemen, bukan saat terpuruk seperti sebelumnya.

Sejak awal kedatangannya, Amorim membawa filosofi taktis yang khas dengan formasi 3-4-3. Namun, implementasi sistem ini terbukti tidak mudah bagi skuad Manchester United. Adaptasi yang lambat menyebabkan tim terpuruk hingga posisi ke-15 di klasemen sementara Liga Primer. Di titik terendah inilah, banyak pihak menduga Amorim akan segera didepak. Namun, manajemen klub justru memilih untuk mempertahankan dan memberikan dukungan penuh.

Amorim Didepak MU Padahal Tim Sedang Moncer
Gambar Istimewa : gilabola.com

Kontradiksi semakin kentara saat jendela transfer musim panas tiba. Alih-alih memecatnya, klub justru mengucurkan dana fantastis, mencapai sekitar 250 juta Poundsterling atau setara Rp5 triliun, untuk mengakomodasi visi taktis Amorim. Dana ini digunakan untuk mendatangkan pemain yang cocok dengan skema 3-4-3 miliknya. Namun, tak lama setelah investasi besar itu, di saat tim mulai menunjukkan grafik peningkatan signifikan, menduduki peringkat keenam dan hanya berjarak tiga poin dari zona Liga Champions, keputusan mengejutkan justru diambil: Amorim dipecat.

Di bawah kepemimpinan Sir Jim Ratcliffe, United dinilai mengambil terlalu banyak keputusan kontradiktif. Mulai dari menunjuk pelatih dengan filosofi taktis yang jelas namun tidak didukung skuad yang sesuai, mempertahankan di kala terpuruk, hingga akhirnya mendepak saat progres mulai terlihat. Pola inkonsistensi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang visi jangka panjang klub dan arah yang ingin dituju.

Tentu saja, Ruben Amorim bukan sosok tanpa cela. Keras kepalanya dalam mempertahankan skema 3-4-3 di tengah keterpurukan, beberapa konflik internal, dan performa tim yang inkonsisten di awal musim memang menjadi catatan. Namun, banyak pihak menilai ia lebih dari sekadar pelatih yang gagal; ia adalah korban dari sistem manajemen yang goyah dan tanpa arah yang jelas. Ia datang sebagai pembawa visi, bertahan di tengah badai, namun disingkirkan saat secercah harapan mulai muncul.

Banyak pengamat sepak bola menilai, pemecatan Amorim hanyalah upaya klasik untuk mengalihkan tanggung jawab. Manchester United seolah kembali memilih jalan pintas dengan mengorbankan pelatih, sementara inti permasalahan di level pengambil keputusan tetap tak tersentuh. Selama manajemen klub terus gamang dalam menentukan identitas dan arah, siapa pun yang menduduki kursi pelatih Old Trafford hanya akan menjadi tumbal berikutnya. Perubahan sejati, menurut mereka, harus dimulai dari refleksi mendalam di jajaran direksi, bukan sekadar mengganti wajah di pinggir lapangan.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post