Ekonesia – Perburuan manajer permanen Manchester United kembali memanas dengan munculnya nama Xabi Alonso sebagai kandidat kuat. Namun, di balik daya tarik tawaran "gratis" dari eks gelandang top ini, tersimpan dilema besar yang menguji tradisi klub dan strategi jangka panjang Setan Merah. Sementara itu, Michael Carrick telah ditunjuk sebagai pelatih interim hingga akhir musim, mengemban tugas menstabilkan tim pasca gejolak internal.
Baca juga: Idul Adha Lancar? Pertamina Tambah Pasokan LPG!
Penunjukan Carrick menyusul periode singkat Darren Fletcher yang menggantikan Ruben Amorim, pelatih yang sebelumnya dipecat. Fokus utama Carrick kini adalah mengembalikan ketenangan di ruang ganti dan membangun fondasi stabilitas. Di sisi lain, manajemen klub tengah bekerja keras menyaring kandidat pelatih permanen dengan kriteria yang semakin ketat dan spesifik.

Laporan terbaru dari internal klub mengindikasikan bahwa Manchester United kini memprioritaskan pelatih dengan rekam jejak pengalaman di Premier League. Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Kegagalan adaptasi yang dialami manajer sebelumnya, seperti Amorim dan Erik ten Hag, menjadi pelajaran berharga. Jurnalis terkemuka David Ornstein turut mengamini, menekankan pentingnya pemahaman teknis dan non-teknis Liga Inggris.
Baca juga: Libur Panjang Ferry ASDP Siapkan Kejutan Apa?
Kriteria baru ini secara otomatis menyingkirkan sejumlah nama besar yang sebelumnya digadang-gadang sebagai favorit. Julian Nagelsmann, Xavi Hernandez, Zinedine Zidane, dan Luis Enrique, yang sempat menjadi incaran utama, kini praktis keluar dari daftar pertimbangan. Padahal, Luis Enrique, dengan segudang prestasi di Barcelona dan PSG, sebelumnya dianggap memiliki peluang besar, namun syarat pengalaman Liga Inggris menutup jalannya.
Situasi ini secara tak langsung menyisakan Xabi Alonso sebagai satu-satunya kandidat dari daftar awal yang masih dipertimbangkan secara serius. Meski belum pernah memimpin tim di Premier League, latar belakangnya sebagai mantan pemain di liga tersebut dianggap memberinya pemahaman mendalam tentang kultur dan dinamika sepak bola Inggris. Namun, aspek ini saja belum cukup untuk meyakinkan penuh manajemen United.
Kendala terbesar bagi Alonso justru terletak pada sejarah panjang dan tradisi kuat Manchester United. Sebagai mantan pemain Liverpool, rival abadi Setan Merah, penunjukannya akan menjadi sebuah preseden yang belum pernah terjadi. Klub tidak pernah merekrut pelatih dengan latar belakang sebagai eks pemain dari musuh bebuyutan mereka, sebuah faktor yang sangat dipertimbangkan oleh jajaran direksi.
Alonso memang menawarkan solusi yang menarik dari segi biaya dan potensi. Namun, keputusan merekrutnya tidaklah sederhana. Manchester United harus menimbang matang berbagai aspek, mulai dari kesesuaian taktik, kemampuan mengelola skuad bertabur bintang, hingga risiko adaptasi di Premier League, serta yang tak kalah penting, bagaimana penerimaan publik terhadap mantan ikon rival. Klub membutuhkan pelatih berpengalaman dengan visi jangka panjang yang jelas, bukan sekadar solusi instan yang berpotensi menimbulkan masalah baru.











Tinggalkan komentar