Terkuak Sosok Penguasa 400 Hektare

Agus Riyadi

31 Oktober 2026

3
Min Read

Ekonesia – Matraman kini dikenal sebagai salah satu denyut nadi Jakarta yang tak pernah tidur, dipenuhi hiruk pikuk permukiman padat dan pusat aktivitas ekonomi. Namun, di balik wajah modernnya, tersimpan sebuah babak sejarah yang jarang terkuak, tentang seorang "tuan tanah" asing yang pernah menguasai ratusan hektare lahan di jantung ibu kota selama lebih dari empat dekade. Kisah ini membawa kita kembali ke era kolonial, mengungkap sosok misterius di balik kemegahan Matraman masa lalu.

J.M.L. Bohl, seorang imigran Belanda, tiba di Batavia pada tahun 1864 saat usianya baru menginjak 16 tahun. Seperti banyak pendatang Eropa lainnya, ia memulai perjalanannya dari bawah, meniti karier di perusahaan dagang terkemuka, Pitcairn Syme & Co. Dengan ketekunan dan kejelian, Bohl berhasil mengumpulkan kekayaan yang kemudian ia investasikan pada sektor properti.

Terkuak Sosok Penguasa 400 Hektare
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Catatan sejarah dari harian Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 19 Juni 1920 mengungkapkan bagaimana Bohl, di usia muda, telah menjelma menjadi salah satu magnat tanah terbesar di Hindia Belanda. Ia tak hanya memiliki Matraman, tetapi juga Sinajan, sebuah wilayah yang berdekatan dengan Paal Merah. Khusus di Matraman, kekuasaannya membentang seluas 502 bau, atau setara dengan sekitar 400 hektare. Di atas hamparan tanah yang luas itu, Bohl membangun kediaman mewah yang dilengkapi fasilitas tak lazim pada zamannya: puluhan ekor rusa peliharaan yang bebas berkeliaran, menjadi simbol kemewahan dan status sosialnya yang tinggi.

Selama 41 tahun, Bohl memegang kendali penuh atas tanah partikelir Matraman. Di bawah pengawasannya, kawasan tersebut bertransformasi menjadi lahan produktif yang menghasilkan komoditas agrikultur penting seperti padi dan kelapa. Meskipun bergelimang harta dan memiliki pengaruh besar, kehidupan pribadi Bohl justru sangat tertutup. Harian Bataviaasch Nieuwsblad (19 Juni 1920) menggambarkan dirinya sebagai sosok yang jarang berinteraksi dengan masyarakat luas, memilih hidup dalam kesendirian. Namanya dikenal di kalangan elite kolonial semata-mata karena statusnya sebagai pemilik lahan raksasa.

Di sela-sela kesibukan mengelola aset propertinya, Bohl sempat mencicipi panggung politik lokal. Harian De Locomotief pada 21 Agustus 1908 pernah memberitakan pencalonannya sebagai anggota dewan perwakilan untuk wilayah Meester Cornelis, yang kini kita kenal sebagai Jatinegara.

Kisah hidup sang tuan tanah berakhir pada 18 Juni 1920. Di usianya yang ke-72 tahun, Bohl menghembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit di Jalan Salemba. Ia meninggal dunia setelah menjalani operasi usus buntu yang kemudian disusul komplikasi gagal ginjal akut. Kematian Bohl sekaligus menjadi penanda berakhirnya era penguasaan privat atas tanah partikelir Matraman. Setelah itu, seluruh asetnya diambil alih oleh pemerintah kolonial. Meskipun Matraman kini telah berubah total menjadi kawasan metropolitan modern, sejarah tetap mencatat jejak seorang taipan kolonial yang hidup dalam kemewahan namun memilih kesendirian, meninggalkan warisan kepemilikan tanah yang luar biasa di jantung ibu kota.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post