Ekonesia – Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan performa Indeks Harga Saham Gabungan IHSG yang tiba-tiba merosot tajam pada perdagangan awal pekan ini Senin 12 Oktober 2026. Setelah sempat membuka sesi di zona hijau optimisme investor langsung sirna ketika indeks berbalik arah dan ambruk lebih dari satu persen. Pada pukul 10.42 WIB IHSG bertengger di level 6.03232 anjlok 6144 poin atau setara 101 persen dari penutupan sebelumnya. Titik terendah hari ini bahkan sempat menyentuh 6.02980.
Baca juga: Mobil Listrik Masih Misteri Edukasi Jadi Kunci
Pergerakan IHSG pagi itu bak roller coaster. Dibuka perkasa di 6.10932 melampaui penutupan sebelumnya di 6.09376 indeks sempat menyentuh puncak 6.12872. Namun euforia itu hanya sesaat. Tekanan jual masif mulai mendominasi membuat IHSG terperosok ke area merah dan terus bergerak di bawah level pembukaan hingga menjelang pukul 10.00 WIB.

Penyebab utama anjloknya IHSG pagi ini adalah kinerja buruk dari beberapa sektor kunci. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terpukul dengan penurunan drastis 42 persen. Disusul oleh sektor energi yang ambruk 22 persen dan sektor material dasar yang juga tertekan 13 persen. Saham-saham raksasa yang menjadi beban utama penekan IHSG antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk BREN PT Bank Central Asia Tbk BBCA PT Bayan Resources Tbk BYAN PT Dian Swastatika Sentosa Tbk DSSA dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk GOTO.
Baca juga: Rumah Impian Makin Dekat! KUR Perumahan Siap Meluncur Juli?
Meski demikian beberapa saham berhasil menjadi penopang dan menahan koreksi lebih dalam. Di antaranya adalah PT Astra International Tbk ASII PT Multipolar Technology Tbk MLPT PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk BBRI PT Bank Mandiri Persero Tbk BMRI dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk INDF.
Kelesuan pasar domestik ini tak lepas dari bayang-bayang sejumlah agenda penting dan rilis data ekonomi global yang akan mewarnai pekan ini. Sorotan utama tertuju pada pertemuan Dana Moneter Internasional IMF dan Bank Dunia di Bangkok Thailand yang berlangsung dari 12 hingga 18 Oktober. Para pejabat keuangan dunia akan berkumpul membahas prospek ekonomi global stabilitas keuangan pengentasan kemiskinan hingga peran investasi swasta di tengah gejolak geopolitik lonjakan biaya energi kenaikan suku bunga dan tumpukan utang publik. Chairman The Fed Kevin Warsh juga dijadwalkan menyampaikan pidato penting di sana.
Situasi geopolitik juga memanas dengan kabar Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan untuk membantu Arab Saudi menyerang kelompok Houthi di Yaman. Keputusan ini berpotensi menyeret AS ke medan perang baru dan memperluas konflik Iran sebuah skenario yang tentu saja menimbulkan kekhawatiran global.
Rabu 14 Oktober akan menjadi hari krusial bagi pasar global. China akan merilis data inflasi konsumen CPI dan produsen PPI untuk September 2026. Data ini akan menjadi indikator penting kekuatan permintaan domestik dan tekanan biaya di ekonomi terbesar kedua dunia. Sebelumnya pada Agustus inflasi konsumen China mencapai 08 persen secara tahunan dan inflasi produsen melonjak menjadi 38 persen. Bersamaan dengan itu data neraca perdagangan China juga akan diumumkan. Lonjakan ekspor dan impor China pada Agustus lalu yang mencapai surplus US$11909 miliar sangat dinantikan kelanjutannya karena pertumbuhan impor China bisa menjadi angin segar bagi ekspor komoditas Indonesia.
Tak kalah penting Amerika Serikat juga akan merilis data inflasi September. Angka ini sangat dinanti karena akan memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve The Fed. Jika tekanan harga kembali meningkat ruang pelonggaran moneter The Fed bisa semakin terbatas yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS imbal hasil obligasi rupiah dan pasar saham negara berkembang. Pernyataan dari para pejabat The Fed seperti Wakil Ketua Michelle W Bowman dan Ketua Kevin Warsh yang dijadwalkan berpidato pada 14-16 Oktober juga akan dicermati pasar dengan seksama.
Di ranah domestik sentimen relatif sepi namun hawa politik dikhawatirkan memanas menjelang peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menambah lapisan ketidakpastian bagi investor.










Tinggalkan komentar