Ekonesia – Gelombang perubahan besar tengah menerpa sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor karya. Dalam upaya menanggulangi tumpukan kewajiban finansial yang membelit, BP BUMN bersama BPI Danantara mengambil langkah strategis dengan melakukan perombakan menyeluruh. Tak main-main, bank-bank pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) turut digandeng untuk menyuntikkan dukungan vital dalam proses penyehatan ini.
Baca juga: Pesta Gol Dramatis Bali United di Kandang
Dony Oskaria, yang menjabat sebagai Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Indonesia, memimpin langsung serangkaian pertemuan penting. Jajaran direksi Himbara, meliputi Bank Mandiri, BRI, dan BNI, hadir bersama para petinggi BUMN Karya seperti PT PP (Persero) Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI). Diskusi intensif tersebut berpusat pada skema restrukturisasi keuangan PTPP dan ADHI, termasuk bentuk dukungan pembiayaan dari Himbara untuk mendorong transformasi kedua perusahaan konstruksi raksasa ini.

Menurut Dony, penataan ulang ini bukan sekadar tambal sulam, melainkan sebuah strategi fundamental untuk memperkuat fondasi keuangan perusahaan. Tujuannya jelas: meningkatkan kedisiplinan bisnis dan memastikan setiap aliran dana disalurkan secara terukur, hanya untuk proyek-proyek yang produktif dan memiliki kelayakan bisnis yang solid. "Pembahasan kami fokus pada penyusunan skema pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan. Dukungan finansial diarahkan pada proyek-proyek yang terbukti produktif, layak secara komersial, dan memiliki proyeksi arus kas yang jelas. Ini akan memperkokoh kinerja sekaligus menjamin kelangsungan usaha," tegas Dony dalam keterangan resminya baru-baru ini.
Baca juga: Inter Kalah di Final UCL? Thuram Beri Pesan Menohok!
Lebih dari sekadar aspek pembiayaan, perombakan ini juga menyasar penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan manajemen risiko, serta pembentukan model bisnis yang jauh lebih sehat. "Kita harus belajar dari pengalaman masa lalu. Restrukturisasi ini wajib menjadi titik balik untuk membangun BUMN Karya yang lebih tangguh, lebih sehat, dan memiliki tata kelola yang prima, sehingga mampu tumbuh berkelanjutan dan menjadi tulang punggung pembangunan nasional," imbuhnya.
Tak hanya PTPP dan ADHI, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) juga menjadi fokus utama dalam agenda penyehatan ini. Bagi Waskita, langkah ini bukan sekadar perpanjangan waktu pembayaran utang atau menunda masalah, melainkan upaya radikal untuk membangun fondasi bisnis yang kokoh dan berkelanjutan. Dony menekankan bahwa proses penyehatan harus didasarkan pada perhitungan yang realistis, terukur, dan akuntabel, demi menghasilkan solusi permanen yang memperkuat kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya sekaligus menciptakan nilai jangka panjang.
"Pembahasan meliputi valuasi aset, struktur dan kapasitas pembayaran utang, proyeksi arus kas, hingga penentuan model bisnis paling tepat untuk menopang kelangsungan usaha," ungkapnya. Salah satu arah strategis yang didorong adalah memperkuat fokus Waskita pada bisnis jalan tol. Dengan karakteristik bisnis yang menjanjikan pendapatan jangka panjang, pengelolaan jalan tol dinilai memiliki prospek cerah sebagai pilar utama perusahaan.
Namun, Dony menegaskan, sebelum melangkah ke tahap pengembangan, kondisi keuangan Waskita harus dipastikan sehat. Hal ini krusial agar perusahaan mampu memenuhi kewajibannya secara mandiri, membangun kembali kepercayaan para pemangku kepentingan, serta membuka peluang pendanaan baru, termasuk melalui pasar modal. "Waskita bisa menjadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu sah saja asalkan perhitungannya matang dan benar," ujar Dony, seperti dikutip dari akun resmi BP BUMN.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa penguatan fokus bisnis tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya aset, tetapi harus ditopang oleh perhitungan bisnis yang cermat, struktur keuangan yang sehat, serta proyeksi usaha yang mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan. Dony menambahkan, pihaknya akan terus mengawal proses restrukturisasi ini agar tidak berhenti pada penyelesaian masalah jangka pendek, melainkan benar-benar mewujudkan transformasi menyeluruh. Melalui model bisnis yang lebih terfokus, struktur keuangan yang lebih kuat, dan tata kelola yang semakin baik, Waskita diharapkan bangkit sebagai perusahaan yang sehat, berdaya saing, dan tidak lagi terjerembab dalam persoalan serupa di masa mendatang.










Tinggalkan komentar