Ekonesia – Dinamika pasar keuangan domestik pada awal pekan ini menunjukkan pergerakan yang kontras. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG berhasil menjaga momentum positifnya, namun nilai tukar rupiah justru menghadapi tekanan serius terhadap dolar Amerika Serikat. Sementara itu, gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali memicu pergerakan ekstrem pada harga komoditas global.
Baca juga: Hilirisasi MIND ID: Solusi Ampuh Tekan Impor Bahan Baku Industri?
Pada perdagangan Senin pagi, sekitar pukul 10:03 WIB, IHSG tercatat kokoh di level 6.226, melanjutkan tren penguatan yang menggembirakan bagi investor. Namun, kondisi berbeda dialami mata uang Garuda. Rupiah tak berdaya dan terperosok hingga Rp 17.970 per dolar AS, menunjukkan pelemahan signifikan di tengah ketidakpastian global yang terus membayangi.

Fokus utama perhatian beralih ke sektor komoditas. Harga minyak mentah dunia meroket tajam, menembus angka USD 80 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas, menimbulkan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan global. Di sisi lain, emas yang sering dianggap sebagai aset safe haven, justru kehilangan kilaunya. Logam mulia ini anjlok sekitar Rp 4.000 per troy ons, sebuah pergerakan yang kontras dengan lonjakan harga minyak di tengah ketegangan geopolitik.
Baca juga: Madrid Dapat Amunisi Baru Siap Gempur Girona










Tinggalkan komentar