Ekonesia – Siapa sangka, kemenangan dramatis Crystal Palace di kancah Eropa justru memicu serangkaian efek domino yang tak terduga, mengguncang stabilitas Liga Primer dan bahkan mengacaukan jadwal kompetisi domestik Inggris. Klub berjuluk The Eagles itu secara tak terduga mengakhiri musim dengan mengangkat trofi UEFA Conference League.
Baca juga: Pep Was-Was! Nasib City di Liga Champions Ancam Transfer Pemain Top
Dalam final yang digelar di Red Bull Arena, Leipzig, Crystal Palace berhasil merengkuh gelar Eropa pertamanya setelah menundukkan Rayo Vallecano 1-0. Gol tunggal Jean-Philippe Mateta pada menit ke-50 memastikan sejarah tercipta, sekaligus menjadi penutup manis bagi Oliver Glasner selama masa kepemimpinannya di Selhurst Park. Namun, euforia kemenangan ini ternyata memicu serangkaian efek domino yang tak terduga, meluas jauh melampaui batas London selatan.

Kemenangan Palace tidak hanya mengamankan tiket mereka ke Liga Europa musim depan, tetapi juga mencetak rekor baru bagi Liga Primer dengan sembilan klub Inggris yang akan berlaga di kompetisi Eropa. Sekilas, ini terdengar seperti kabar gembira yang menunjukkan dominasi sepak bola Inggris. Namun, di balik rekor ini tersimpan potensi kerugian besar bagi Inggris dalam perebutan slot tambahan Liga Champions di musim mendatang.
Baca juga: Kerja Sama BPKP-BPS: Rahasia Sukses Pembangunan Nasional?
Sistem koefisien UEFA yang berlaku kini menghitung perolehan poin berdasarkan rasio kemenangan klub dibagi dengan jumlah total wakil dari negara tersebut. Setiap kemenangan bernilai dua poin dan hasil imbang satu poin. Dengan sembilan wakil, setiap kemenangan klub Liga Primer hanya menghasilkan 0,222 poin koefisien. Angka ini jauh tertinggal dari Serie A dan Bundesliga yang masing-masing hanya memiliki tujuh wakil, sehingga klub Italia dan Jerman bisa meraup 0,285 poin per kemenangan. Situasi ini membuka peluang Liga Primer kehilangan slot tambahan Liga Champions, yang musim lalu sempat dinikmati oleh Liverpool.
Liverpool menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampaknya. Musim lalu, mereka finis di posisi kelima dan diuntungkan oleh slot tambahan Liga Champions milik Inggris. Kini, masa depan slot tersebut terancam. Kekhawatiran muncul mengingat beberapa wakil Inggris musim depan dinilai minim pengalaman di kancah Eropa, seperti Bournemouth dan Sunderland. Brighton, yang akan tampil di Conference League, juga berpotensi menghadapi fase grup yang lebih berat karena status unggulan yang rendah. Jika klub-klub ini tersingkir lebih awal, koefisien Inggris bisa anjlok. Meskipun UEFA memberikan bonus poin dari posisi klasemen fase liga dan pencapaian di fase gugur, Inggris tetap membutuhkan setidaknya beberapa wakil untuk melangkah jauh, minimal hingga semifinal atau final, demi menjaga posisi koefisien tetap aman.
Efek domino kemenangan Palace juga merembet hingga ke jadwal Carabao Cup musim depan, menyebabkan kekacauan yang signifikan. Awalnya, Palace dijadwalkan masuk putaran kedua karena finis di posisi ke-15 Liga Primer. Namun, setelah lolos ke Liga Europa, mereka otomatis melaju ke putaran ketiga bersama delapan klub Inggris lainnya yang berkompetisi di Eropa. Akibat perubahan ini, EFL terpaksa menciptakan babak pendahuluan tambahan agar jumlah tim di putaran ketiga tetap sesuai. Empat klub yang terkena dampaknya adalah Crawley Town, Rochdale, Tranmere Rovers, dan York City, yang kini harus memainkan laga tambahan seminggu sebelum putaran pertama dimulai.
Namun, kerumitan tidak berhenti di situ. Format babak awal Carabao Cup menggunakan sistem regional utara dan selatan. Crawley berada di wilayah selatan, sementara tiga klub lainnya berasal dari utara Inggris. Situasi ini memaksa EFL untuk melakukan undian khusus guna menentukan siapa yang akan dipindahkan ke jalur selatan. Perjalanan panjang dan kendala logistik diperkirakan akan menjadi tantangan besar yang sulit dihindari, semua bermula dari sebuah kemenangan yang tak terduga.



Tinggalkan komentar