Rahasia Kejatuhan Raja Salim dalam Semalam

Agus Riyadi

16 Mei 2026

5
Min Read

Ekonesia – Sudono Salim, atau yang juga dikenal sebagai Liem Sioe Liong, adalah maestro bisnis yang namanya terukir dalam sejarah ekonomi Indonesia. Sosok pendiri Salim Group ini dikenal memiliki kedekatan istimewa dengan Presiden Soeharto, sebuah ikatan yang telah terjalin bahkan sejak Soeharto masih berpangkat kolonel. Namun, kemegahan kerajaan bisnisnya yang berjaya selama tiga dekade, tiba-tiba runtuh dalam hitungan hari.

Pada masa-masa awal kemerdekaan, Salim membangun reputasinya sebagai importir cengkeh sekaligus penyedia logistik penting bagi kebutuhan militer. Jaringan usahanya yang merentang luas memikat perhatian Kolonel Soeharto. Perkenalan melalui sepupu Soeharto, Sulardi, selama periode Perang Kemerdekaan antara tahun 1945 hingga 1949, menjadi awal mula kerja sama strategis yang kelak mengubah peta bisnis nasional.

Rahasia Kejatuhan Raja Salim dalam Semalam
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Setelah Soeharto meraih kekuasaan di Indonesia pada pertengahan 1960-an dan menjadi presiden, dia didukung oleh kelompok kroni pengusaha, yang terbesar dan terkuat adalah Liem Sioe Liong," demikian diungkapkan Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam buku Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016). Sebuah simbiose mutualisme terjalin erat selama tiga dekade. Soeharto melindungi Liem dan memastikan roda bisnisnya berputar lancar. Sebaliknya, Liem, melalui kerajaan bisnis Salim Group, menyalurkan dana kepada Soeharto, keluarga, dan para kroni lainnya.

Alhasil, masing-masing pihak mencapai puncak kejayaan di jalannya. Salim sukses tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, sementara Soeharto kokoh memegang tampuk kekuasaan di Tanah Air. Namun, kemegahan itu mendadak runtuh dalam hitungan hari pada Mei 1998, saat badai krisis menerjang.

Salim berhasil membangun tiga pilar kerajaan bisnis di sektor perbankan (Bank Central Asia atau BCA), bangunan (Indocement), serta makanan (Bogasari dan Indofood). Namun, semua itu perlahan rontok saat krisis 1998 melanda, dengan BCA menjadi yang paling terpukul. Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2009) mencatat, selama masa krisis, nasabah menarik dana secara massal dan besar-besaran. Antrean panjang nasabah mengular, berbondong-bondong menarik seluruh tabungan mereka. Kondisi ini membuat BCA, yang kehilangan kepercayaan publik, terancam bangkrut. Rangkaian krisis ini mencapai puncaknya pada Mei 1998.

Ironisnya, kedekatan dengan Soeharto justru berbalik menjadi bumerang bagi Salim saat itu. Gelombang sentimen anti-Soeharto, imbas krisis ekonomi yang merembet ke ranah politik, menghantam telak. Rakyat yang mengetahui ikatan keduanya menjadikan Salim sebagai target sasaran. Ini terjadi usai unjuk rasa beralih menjadi kerusuhan rasial pada 13 Mei 1998. Hari itu, Jakarta dan sekitarnya dilanda kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran terhadap rumah, bangunan pertokoan, serta banyak kendaraan.

Aksi brutal ini dilakukan oleh massa yang tersulut emosi. Mereka menargetkan properti dan aset milik etnis Tionghoa, bahkan mengancam nyawa orang Tionghoa itu sendiri. Jemma Purdey dalam Kekerasan Anti-Tionghoa di Indonesia 1996-1999 (2013) menjelaskan, munculnya sentimen rasial ini disebabkan oleh stereotip bahwa etnis Tionghoa dianggap pantas dibenci karena kekayaan dan kedekatan dengan rezim berkuasa Soeharto. Dan tokoh sentral yang melekat dengan deskripsi itu tak lain adalah Sudono Salim. "Perusahaan para cukong dan keluarga Soeharto merupakan sasaran utama pembakaran dan penjarahan. Bank Central Asia milik Liem Sioe Liong merupakan objek serangan utama," tulis Ricklefs.

Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016) mengungkapkan, meski dijadikan target amuk massa, Sudono Salim, istri, dan beberapa anaknya sedang berada di Amerika Serikat untuk menemani Salim yang akan menjalani operasi mata. Di Jakarta, hanya ada Anthony Salim yang bekerja di Wisma Indocement, Jalan Sudirman. Anthony kala itu sampai tidak berani pulang ke rumah ayahnya di kawasan Roxy, sebab kerusuhan massa juga menyasar permukiman warga Tionghoa. Dikhawatirkan, jika Salim berdiam diri di rumahnya, ia bisa terbunuh.

Prediksi itu kemudian benar terjadi. Pagi hari pada 14 Mei, Anthony menerima kabar bahwa rumah ayahnya diserbu sekelompok pemuda dengan raut wajah penuh amarah, membawa jerigen berisi bahan bakar dan perkakas perusak. Mereka ingin masuk ke rumah mewah Liem. Anthony tak punya pilihan lain. Dia segera menginstruksikan satpam untuk membiarkan massa masuk dan merusak, demi menghindari pertumpahan darah yang lebih parah.

"Dalam sekejap, seluruh mobil di garasi terbakar, termasuk juga seisi rumah. Mereka membakar furnitur, mencopot lukisan, dan mengobrak-abrik kamar. Bahkan mereka mencoret-coret rumah dengan kata-kata tidak pantas," tutur Anthony kepada Richard Borsuk dan Nancy Chng. Setelah beberapa menit, kepulan asap hitam membubung tinggi ke angkasa dari kediaman Salim. Di jalanan, potret Sudono Salim dilempari batu dan dilalap api oleh massa yang marah.

Melihat situasi Jakarta yang kian parah, Anthony langsung memutuskan untuk meninggalkan kantornya. Dia khawatir kantornya akan bernasib sama seperti rumah ayahnya. Ia lantas bergegas ke Bandara Halim untuk menuju Singapura menggunakan pesawat jet pribadi. Dari sanalah, Anthony memantau perkembangan bisnisnya setelah masa-masa sulit itu.

Setelah kerusuhan mereda dan Soeharto akhirnya lengser, BCA mengalami dampak kerugian paling telak. Tercatat ada 122 cabang yang rusak, terdiri dari 17 kantor terbakar habis, 26 cabang dirusak dan dijarah, serta 75 cabang rusak namun tidak dijarah. Selain itu, 150 ATM dirusak dan uang tunainya diambil, menelan kerugian hingga Rp 3 miliar. Selain BCA, Indofood juga mendapat serangan. Pabriknya di Solo dijarah dan dibakar hingga menelan kerugian Rp 42 miliar. Pusat distribusinya di Tangerang juga hancur dijarah massa. Hanya Indocement yang masih bisa bertahan.

Meski begitu, pukulan telak terjadi di kerajaan bisnis sektor perbankan. Seminggu setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, BCA diambil alih oleh pemerintah karena kondisi finansialnya kian memburuk tak tertolong. Pemerintah, melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), resmi menjadikan BCA sebagai BTO (Bank Taken Over). Pengambilalihan ini bertujuan untuk menolong BCA agar tidak terjerembab terlalu dalam. Sejak itulah, BCA tidak lagi menjadi milik keluarga Salim. Richard Borsuk dan Nancy Chng menyebut, untuk membangkitkan kembali roda-roda bisnisnya, Salim hanya mengandalkan Indofood.

Kini, 25 tahun setelah kejadian memilukan itu, bisnis keluarga Salim kembali menorehkan kejayaan. Imperium bisnisnya pun tidak hanya terbatas pada Indofood, tetapi juga meluas ke sektor energi, konstruksi, dan perbankan.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post