Intel Menggila Saham Melonjak Tertinggi Sejak 1987

Agus Riyadi

25 April 2026

3
Min Read

Ekonesia – Raksasa semikonduktor dunia, Intel, baru-baru ini membuat kejutan besar di pasar saham. Harga saham perusahaan teknologi asal Amerika Serikat ini meroket tajam hingga 24% pada perdagangan Jumat (24/4/2026), menandai performa harian terbaik yang pernah dicatat sejak Oktober 1987. Lonjakan fantastis ini dipicu oleh meningkatnya keyakinan investor terhadap tanda-tanda kebangkitan Intel di tengah gelombang permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang tak terbendung.

Saham Intel ditutup perkasa di level US$82,57, melanjutkan tren positif yang luar biasa. Sepanjang tahun ini saja, nilai sahamnya telah melesat 124%, setelah sebelumnya menguat 84% sepanjang tahun 2025. Kenaikan terbaru ini bahkan melampaui lonjakan 23% yang terjadi pada 18 September lalu, kala Nvidia mengumumkan investasi senilai US$5 miliar ke Intel, menunjukkan momentum positif yang terus berlanjut.

Intel Menggila Saham Melonjak Tertinggi Sejak 1987
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di bawah kepemimpinan CEO Lip-Bu Tan yang mulai menjabat awal tahun lalu, gairah investor terhadap Intel kembali membara. Tan dinilai berhasil menstabilkan kondisi keuangan perusahaan, menarik suntikan investasi dari pemerintah Amerika Serikat di era Donald Trump, serta sukses membawa Intel kembali ke pusat persaingan bisnis AI yang sebelumnya sempat tergerus. "CEO baru Intel telah berhasil menyehatkan neraca keuangan dan menjalankan strategi yang menjanjikan, membawa Intel kembali ke jalur kompetitif," ungkap Analis Evercore ISI dalam laporannya, yang sekaligus menaikkan rekomendasi saham Intel menjadi setara beli.

Dari sisi kinerja finansial, Intel mencatatkan pendapatan kuartal pertama sebesar US$13,58 miliar, melampaui ekspektasi pasar dan tumbuh 7,2% dibandingkan US$12,67 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menjadi sinyal kuat pemulihan setelah dalam lima dari tujuh kuartal sebelumnya perusahaan mencatat penurunan pendapatan secara tahunan. Intel juga memberikan panduan kinerja kuartal kedua yang jauh lebih optimistis, menambah keyakinan pasar.

Reli saham yang impresif ini menandai pembalikan arah yang dramatis. Sebelumnya, Intel sempat kehilangan 60% nilai pasarnya pada tahun 2024, sebuah periode sulit yang berujung pada lengsernya CEO sebelumnya, Pat Gelsinger, pada Desember tahun tersebut. Selama beberapa tahun terakhir, Intel memang tertinggal dalam perlombaan AI akibat kendala produksi dan belum mendapatkan pelanggan besar untuk bisnis fabrikasi chip-nya.

Namun, kini perusahaan mulai menunjukkan kemajuan signifikan. Meskipun sejumlah analis masih menanti bukti nyata keberhasilan teknologi manufaktur generasi berikutnya, yakni 14A yang ditargetkan hadir pada 2028 atau setelahnya, Intel telah mengambil langkah berani. Jika sebelumnya Intel menyatakan akan menunggu kehadiran pelanggan utama sebelum menggelontorkan investasi besar untuk teknologi tersebut, kini CEO Tan menegaskan bahwa perusahaan akan "melaju besar-besaran ke teknologi 14A." Dalam paparan kinerja terbarunya, ia juga mengungkapkan bahwa "sejumlah pelanggan saat ini sedang aktif mengevaluasi teknologi tersebut," dengan perkembangan yang disebut lebih cepat dibandingkan teknologi 18A sebelumnya.

Pendorong utama pertumbuhan Intel saat ini datang dari bisnis pusat data. Pendapatan di segmen ini melonjak 22% menjadi US$5,1 miliar dibandingkan tahun lalu, seiring meningkatnya kebutuhan akan unit pemrosesan pusat (CPU) di era AI. Tan menegaskan bahwa CPU merupakan "fondasi yang tak tergantikan dalam era kecerdasan buatan." Senada dengan Evercore ISI, analis dari Citi juga menaikkan rekomendasi saham Intel dari netral menjadi beli, dengan proyeksi peningkatan penjualan CPU bagi seluruh pemasok dalam beberapa tahun ke depan. Kebangkitan Intel ini menjadi sorotan utama di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post