Nekat Galbay Pinjol Hidup Hancur Jangan Kaget

Agus Riyadi

25 April 2026

2
Min Read

Ekonesia – Kemudahan akses pinjaman daring atau pinjol seringkali menjebak banyak orang dalam lingkaran utang yang tak berkesudahan. Sebelum tergiur tawaran cepat, penting bagi setiap individu untuk benar-benar mengukur kemampuan finansialnya. Sayangnya, fenomena gagal bayar atau kredit macet masih menjadi momok yang terus menghantui, dengan berbagai alasan mulai dari keterbatasan dana hingga minimnya pemahaman akan kewajiban.

Ketua ICT Watch Indriyatno Banyumurti memperingatkan bahwa risiko sengaja tak melunasi utang pinjol sangatlah besar. Konsekuensinya bisa berupa akumulasi denda yang membengkak, tekanan psikologis akibat beban utang, hingga ancaman jeratan hukum. Indriyatno juga menyoroti maraknya konten media sosial yang mempromosikan "galbay" dan menekankan pentingnya edukasi finansial untuk melawan narasi menyesatkan tersebut. "Jika memang berniat gagal bayar, sampai diniatkan seperti itu, ini ada risiko hukumnya lho," tegas Indriyatno dalam sebuah podcast.

Nekat Galbay Pinjol Hidup Hancur Jangan Kaget
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Lebih jauh, tindakan gagal bayar akan berujung pada catatan buruk dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Skor kredit yang merosot tajam ini akan menjadi penghalang serius bagi pengajuan fasilitas kredit di masa mendatang, seperti pembelian kendaraan bermotor atau kepemilikan rumah. "Jangan anggap enteng bahwa sekadar melepaskan tanggung jawab, menghindari bayar ke fintech lending kemudian hidup tenang," imbuhnya.

Data OJK per Februari 2026 menunjukkan bahwa terdapat 95 perusahaan pinjol legal dengan total outstanding pembiayaan mencapai Rp100,69 triliun, tumbuh 25,75% secara tahunan. Namun, di sisi lain, tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) juga melonjak signifikan hingga 4,54%, jauh di atas angka sebelumnya yang berkisar 2%. Ini menandakan peningkatan serius dalam masalah gagal bayar di sektor ini.

Senada dengan itu, Direktur Komersial IdScore Wahyu Trenggono menegaskan urgensi menjaga rekam jejak kredit. Menurutnya, skor kredit yang buruk bisa membawa dampak merugikan yang sangat luas. "Credit scoring harus kita jaga, karena dampaknya sangat luas. Nanti tak bisa dapat kerja, susah cari kerja, cari jodoh juga susah kalau nilai jelek," ujarnya dengan nada serius dalam sebuah acara di Bandung.

Melihat berbagai potensi kerugian dan risiko yang mengintai, masyarakat diimbau untuk berpikir matang sebelum memutuskan mengajukan pinjaman online. Pastikan Anda memiliki keyakinan penuh akan kemampuan untuk melunasi setiap kewajiban agar terhindar dari jeratan masalah yang lebih besar.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post