Ekonomi RI Melambat Rupiah Loyo Bank Dunia Ungkap Biang Kerok

Agus Riyadi

9 April 2026

2
Min Read

Ekonesia – Laporan terbaru Bank Dunia menyiratkan kabar kurang menggembirakan bagi prospek ekonomi Indonesia. Lembaga keuangan global itu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Tanah Air untuk tahun 2026 menjadi 4,7 persen. Angka ini lebih rendah dari estimasi sebelumnya 4,8 persen dan jauh di bawah target pemerintah dalam APBN 2026 yang ambisius di angka 5,4 persen.

Penurunan proyeksi ini bukan tanpa alasan. Bank Dunia menyoroti dampak eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya Iran, yang memicu lonjakan harga energi global. Tekanan dari harga minyak yang lebih tinggi dan sentimen penghindaran risiko investor diperkirakan hanya akan sebagian diimbangi oleh pendapatan komoditas serta inisiatif investasi pemerintah.

Ekonomi RI Melambat Rupiah Loyo Bank Dunia Ungkap Biang Kerok
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di tengah guncangan geopolitik, mata uang rupiah juga tak luput dari sorotan. Bank Dunia mencatat depresiasi rupiah sekitar 4 persen. Salah satu pemicu utamanya adalah keputusan Morgan Stanley Capital International MSCI yang membekukan sekuritas Indonesia dalam indeksnya. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal dan memicu arus keluar modal, memaksa Bank Indonesia untuk melakukan intervensi.

Selain itu, tantangan inflasi pangan di dalam negeri juga menjadi perhatian serius. Bank Dunia melaporkan kenaikan inflasi pangan hingga 3,5 persen, yang sebagian besar disebabkan oleh kondisi cuaca buruk. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Tiongkok tergolong tinggi, Bank Dunia mengingatkan bahwa langkah-langkah saat ini mungkin tidak kondusif untuk pertumbuhan berkelanjutan di masa depan.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Bank Dunia merekomendasikan serangkaian reformasi. Ini termasuk mengatasi hambatan non-tarif, khususnya di sektor jasa, serta deregulasi dan penyederhanaan perizinan usaha. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang produktif.

Menanggapi isu MSCI, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan OJK Hasan Fawzi memastikan pihaknya bersama Bursa Efek Indonesia BEI telah menyiapkan mitigasi risiko. Hasan mengimbau para investor untuk tidak bereaksi berlebihan jika terjadi penurunan bobot indeks.

Menurut Hasan, reformasi pasar modal yang sedang berjalan mungkin akan memicu penyesuaian portofolio oleh investor domestik maupun global. Hal ini berpotensi menyebabkan tekanan jual sementara, arus keluar modal saat rebalancing, serta volatilitas dan pelebaran bid ask spread pada saham-saham tertentu. Namun, ia menegaskan bahwa dinamika tersebut bersifat transisional dan sementara, merupakan bagian dari proses yang tak terhindarkan. Fokus utama regulator pasar modal tetap pada pembangunan fondasi integritas pasar yang transparan, kredibel, dan mampu mendorong pertumbuhan yang konsisten.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post