Ekonesia – Harga minyak mentah global kembali melonjak tajam pada perdagangan Selasa, memicu kekhawatiran baru di pasar energi dunia. Kenaikan drastis ini dipicu oleh memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama menjelang batas waktu ultimatum Amerika Serikat kepada Iran.
Baca juga: Ronaldo Awet Muda? Rahasia Gila Sang Bintang Terbongkar!
Berdasarkan data terkini, harga minyak jenis Brent tercatat di level 111,02 dolar AS per barel, naik signifikan dari posisi 109,77 dolar AS sehari sebelumnya. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak menjadi 114,61 dolar AS per barel, dari sebelumnya 112,41 dolar AS. Reli kenaikan ini bukan fenomena sesaat. Dalam sepekan terakhir, Brent telah menguat hampir 10 persen sejak awal April, sedangkan WTI melesat lebih dari 14 persen.

Pemicu utama gejolak ini adalah eskalasi konflik yang berpusat di Selat Hormuz, sebuah jalur maritim krusial yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Iran dilaporkan masih menutup akses selat tersebut sejak akhir Februari, menyusul insiden serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Konsekuensinya langsung terasa: arus kapal tanker tersendat dan pasokan global terganggu parah.
Baca juga: Bali United Selamat dari Kekalahan Memalukan!
Presiden AS Donald Trump memperkuat desakannya dengan ancaman keras terhadap Teheran. Ia menyatakan akan mengambil langkah lebih jauh jika Iran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz sebelum batas waktu yang ditentukan. Dalam pernyataannya, Trump bahkan memperingatkan bahwa Iran bisa "dihancurkan" apabila tidak mematuhi ultimatum tersebut. Di sisi lain, Iran menolak proposal gencatan senjata sementara dan menuntut penghentian konflik secara permanen, membuat pasar berada dalam kondisi siaga tinggi.
Situasi di lapangan turut memperburuk suasana. Iran dilaporkan menahan dua kapal LNG Qatar tanpa penjelasan resmi, sementara Arab Saudi mengonfirmasi telah mencegat tujuh rudal balistik yang mengarah ke wilayah timurnya, dekat fasilitas energi vital. Bersamaan dengan itu, serangan drone Ukraina ke infrastruktur minyak Rusia di Laut Hitam menambah tekanan pada sisi pasokan global yang sudah menipis.
Dari sisi kebijakan, OPEC+ memang telah menyetujui penambahan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei. Namun, implementasinya diragukan karena sejumlah negara produsen utama menghadapi kendala distribusi akibat penutupan jalur ekspor di kawasan konflik. Kondisi ini membuat harga spot minyak, khususnya WTI, melonjak dengan premi yang mencetak rekor tertinggi, seiring kilang di Asia dan Eropa berlomba mendapatkan pasokan alternatif. Saudi Aramco bahkan menaikkan harga jual resmi Arab Light ke Asia ke level premium tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 19,50 dolar AS per barel di atas acuan Oman/Dubai.




Tinggalkan komentar