Ekonesia – Panggung pasar modal Indonesia diwarnai drama menegangkan pada Senin 30 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG sempat terperosok tajam nyaris dua persen di awal sesi perdagangan pertama menyentuh level 69455. Namun menjelang penutupan sesi siang sebuah kejutan terjadi. IHSG berhasil memangkas tekanan dan memantul kembali ke atas level 7000-an mengakhiri sesi dengan koreksi lebih ringan di angka 044 persen pada pukul 1110 WIB.
Baca juga: UMKM Naik Kelas! BSI Lahirkan Wirausaha Tangguh?
Di tengah gejolak tersebut aktivitas transaksi tetap tinggi. Sebanyak 1192 miliar saham berpindah tangan dalam 881200 kali transaksi dengan total nilai mencapai Rp 661 triliun. Peta pergerakan saham menunjukkan dominasi merah dengan 478 saham melemah 220 saham menguat dan 260 saham stagnan.

Penurunan IHSG sebagian besar dipicu oleh saham-saham berkapitalisasi besar. Mengutip data Refinitiv PT Bank Central Asia Tbk BBCA menjadi penekan utama dengan sumbangan minus 2369 poin indeks setelah terkoreksi hampir empat persen. Disusul oleh PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk BBRI dan PT Bayan Resources Tbk BYAN yang masing-masing berkontribusi minus 629 dan minus 558 poin indeks.
Baca juga: Saham Gorengan Bikin Geger Jokowi OJK Turun Tangan
Namun di balik tekanan itu sejumlah saham konglomerat tampil sebagai penyelamat. PT DCI Indonesia Tbk DCII menjadi bintang dengan lonjakan 476 persen menyumbang 948 poin indeks bagi IHSG. Tak ketinggalan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk DSSA PT Telkom Indonesia Persero Tbk TLKM PT Bumi Resources Minerals Tbk BRMS dan PT Astra International Tbk ASII juga turut menopang dengan sumbangan masing-masing 646 631 598 dan 307 poin indeks.
Sayangnya pemulihan IHSG masih dibayangi oleh sentimen negatif dari bursa regional Asia-Pasifik yang mayoritas merah membara. Indeks Nikkei Jepang ambruk 352 persen Kospi Korea Selatan anjlok 299 persen Hang Seng Hong Kong turun 093 persen dan bursa Taiwan melemah 153 persen.
Para analis menilai ruang gerak IHSG untuk menguat signifikan masih sangat terbatas. Minimnya katalis positif global yang kuat menjadi penghambat utama. Pasar global kini menanti sinyal jelas seperti gencatan senjata di Timur Tengah pembukaan kembali jalur energi vital seperti Selat Hormuz serta penurunan harga minyak mentah kembali di bawah 80 dolar AS per barel.
Eskalasi konflik global kini memasuki babak baru yang lebih kompleks dengan munculnya ancaman double chokepoint. Jika sebelumnya fokus tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia kini perhatian beralih ke Bab el-Mandeb. Jalur strategis ini yang menghubungkan Asia-Eropa via Terusan Suez dan dilalui 6-12 persen perdagangan global terancam setelah kelompok Houthi di Yaman ikut terlibat. Potensi gangguan simultan pada kedua jalur ini bisa berdampak pada 25-30 persen pasokan minyak global memicu inflasi dunia dan meningkatkan risiko resesi dengan harga minyak yang bertahan tinggi untuk waktu lebih lama.
Bagi Indonesia kondisi ini menjadi beban tambahan. Harga minyak yang melambung jauh di atas zona nyaman fiskal idealnya di bawah 80 dolar AS per barel akan menekan APBN. Dengan asumsi APBN menggunakan patokan 70 dolar AS per barel setiap kenaikan 10 dolar AS bisa memperlebar defisit hingga sekitar Rp 518 triliun. Jika harga minyak menyentuh 100 dolar AS per barel tambahan subsidi energi diperkirakan mencapai Rp 236 triliun sementara penerimaan hanya bertambah sekitar Rp 81 triliun berpotensi menambah defisit hingga Rp 155 triliun. Tekanan fiskal ini secara langsung membebani sentimen pasar saham domestik.
Di sisi lain dinamika global juga dipengaruhi oleh kebijakan Federal Reserve The Fed. Bank sentral AS ini tidak hanya bertugas menjaga inflasi dan lapangan kerja tetapi juga secara tidak langsung berperan menjaga stabilitas sistem keuangan global yang sangat bergantung pada likuiditas.
Situasi geopolitik terkini semakin memanas. Militer Israel mengumumkan serangan terhadap berbagai target di ibu kota Iran Teheran. Pemerintah Iran melaporkan kerusakan infrastruktur energi meskipun media Iran mengklaim listrik telah pulih di sebagian besar Teheran dan kota Karaj. Sebuah universitas di Isfahan Iran tengah juga menjadi sasaran serangan untuk kedua kalinya dalam akhir pekan ini. Israel sendiri menyatakan kebakaran di lokasi industri selatan negara itu akibat serangan Iran telah terkendali setelah sebelumnya ada insiden bahan berbahaya. Sebuah jet militer Amerika Serikat juga dilaporkan mengalami kerusakan parah di pangkalan udara Arab Saudi. Sebelumnya Ketua Parlemen Iran menegaskan pasukannya siap menyambut dan menghujani pasukan darat Amerika Serikat dengan api menyusul pengumuman AS mengerahkan sekitar 3500 tentara dan kapal perang USS Tripoli ke kawasan tersebut.
Kombinasi antara ketegangan geopolitik dan harga komoditas yang melonjak menjadikan prospek pasar saham global termasuk IHSG tetap penuh tantangan di tengah ketidakpastian yang masih mendominasi.




Tinggalkan komentar