Jualan Es Bikin Kaya Raya Hartanya Triliunan

Agus Riyadi

29 Maret 2026

3
Min Read

Ekonesia – Siapa sangka, di balik kesederhanaan profesi penjual es, tersimpan potensi kekayaan yang luar biasa. Sejarah Indonesia mencatat, bisnis pendingin ini pernah melahirkan para miliarder sejati, jauh sebelum era kulkas modern. Fenomena ini bukan sekadar anekdot, melainkan fakta yang dialami banyak pengusaha di masa lalu, dengan Tasripin sebagai salah satu ikonnya yang hartanya ditaksir mencapai triliunan rupiah.

Di awal abad ke-20, tepatnya era kolonial, nama Tasripin mencuat sebagai salah satu individu terkaya di Nusantara. Ketika ia meninggal dunia pada tahun 1919, koran De Nieuwe Vorstenlanden melaporkan asetnya mencapai 45 juta gulden. Untuk membayangkan besarnya angka itu, pada masa itu satu liter beras hanya seharga 6 sen. Dengan modal 45 juta gulden, Tasripin bisa membeli sekitar 750 juta liter beras. Jika dikonversi ke nilai tukar saat ini, dengan asumsi harga beras Rp13 ribu per liter, kekayaan Tasripin setara dengan nyaris Rp10 triliun.

Jualan Es Bikin Kaya Raya Hartanya Triliunan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sumber kekayaan fantastis ini berasal dari bisnis es. Di zaman Tasripin, es adalah komoditas mewah yang sangat langka. Ketiadaan lemari es atau mesin pendingin modern menjadikan es sebagai barang primadona dengan harga jual tinggi dan permintaan yang tak pernah surut. Siapa pun yang mampu memproduksi es secara massal, seperti Tasripin, otomatis menjadi juragan kaya raya.

Jejak bisnis Tasripin dimulai dengan pendirian pabrik es di Ungaran, Semarang, yang diberitakan oleh harian de Locomotief pada 25 Juli 1902. Delapan tahun berselang, ia kembali membuka pabrik es lain di kawasan Petelan, Semarang, yang menurut laporan de Locomotief pada 5 September 1910, menjadi pabrik terbesar di wilayah tersebut dan dikelola langsung olehnya. Tak hanya fokus pada es, Tasripin juga cerdik melakukan diversifikasi usaha. Ia memiliki rumah penjagalan dan aktif dalam perdagangan kulit hewan, dua lini bisnis yang semakin melipatgandakan pundi-pundi kekayaannya.

Dengan pendapatan bulanan mencapai 30 hingga 40 ribu gulden, tak heran jika Tasripin memiliki banyak properti berupa rumah dan tanah di Semarang, serta jaringan pabrik es yang terus meluas. Kisah sukses Tasripin sebagai juragan es berakhir pada tahun 1919 saat ia wafat. Bisnisnya kemudian dilanjutkan oleh keluarganya, meski jejak kelanjutannya tidak banyak tercatat. Namun, sejarah mengenangnya sebagai salah satu pribumi terkaya di Indonesia, yang memulai segalanya dari berjualan es.

Selain Tasripin, panggung sejarah juga dihiasi oleh figur-figur lain yang meraup kekayaan dari bisnis es. Salah satunya adalah Kwa Wan Hong, seorang pengusaha es di Semarang yang hidup sezaman dengan Tasripin. Meski kekayaannya mungkin tidak setinggi Tasripin, Kwa diakui sebagai ‘raja es’ karena perannya sebagai pionir industri es pertama di Indonesia. Pada tahun 1895, Kwa mendirikan pabrik es bernama Hoo Hien. Sejarawan Denys Lombard dalam karyanya ‘Nusa Jawa Silang Budaya’ (1999) menjelaskan, Kwa memproduksi es dengan metode inovatif menggunakan reaksi kimia, yaitu campuran garam dan amonia untuk mengubah air menjadi padat.

Kehadiran pabrik es milik Kwa, seperti yang diberitakan koran de Nieuwe Vorstenlanden pada 17 Juli 1901, merevolusi kebiasaan konsumsi es di masyarakat. Es yang tadinya merupakan barang mewah dan sulit didapat, kini menjadi lebih terjangkau, memungkinkan masyarakat menikmati minuman dingin. Kontribusi Kwa juga membuka jalan bagi lahirnya industri es krim pertama di era kolonial. Meskipun jumlah pasti kekayaannya tidak tercatat rinci, kepemilikannya atas banyak tanah, rumah, dan pabrik es di berbagai wilayah menjadi bukti kemakmurannya.

Tak hanya di Semarang, Magelang juga memiliki kisah sukses penjual es, yakni Robert Chevalier. Melalui bendera NV. Magelangsche Ijs en Mineralwater Fabriek, ia konsisten berbisnis es sejak tahun 1920, mengelola tiga pabrik es dan meraih kekayaan sebelum akhirnya bangkrut saat pendudukan Jepang tahun 1942. Kisah Tasripin dengan harta setara Rp10 triliun, Kwa Wan Hong sang pelopor industri es, dan Robert Chevalier, menjadi bukti nyata bahwa profesi penjual es pun bisa mengantarkan seseorang pada puncak kesuksesan dan kekayaan. Ini adalah pengingat bahwa setiap pekerjaan yang halal, betapapun sederhananya, memiliki potensi dan kemuliaan tersendiri.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post