Putra Kartini Ogah Jual Nama Pilih Hidup Sulit

Agus Riyadi

21 Maret 2026

3
Min Read

Ekonesia – Di tengah sorotan publik terhadap gaya hidup mewah anak-anak pejabat, muncul kisah inspiratif seorang putra tokoh bangsa yang justru menolak segala kemudahan. Ia memilih jalan hidup penuh perjuangan, jauh dari bayang-bayang nama besar orang tuanya, bahkan rela menghadapi keterbatasan ekonomi demi prinsip.

Sosok yang dimaksud adalah Soesalit, putra tunggal pahlawan emansipasi R.A. Kartini. Meskipun lahir dari trah bangsawan dan seorang bupati Rembang, Raden Mas Adipati Ario Djojoadiningrat, Soesalit sengaja membiarkan namanya tenggelam di balik kebesaran ibundanya. Ia tak pernah sekalipun berniat mendompleng popularitas atau status sosial orang tuanya yang dihormati.

Putra Kartini Ogah Jual Nama Pilih Hidup Sulit
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut catatan Wardiman Djojonegoro dalam bukunya "Kartini" (2024), Soesalit memiliki hak penuh untuk meneruskan jejak sang ayah sebagai bupati. Namun, kesempatan emas itu ia tepis mentah-mentah. Berulang kali tawaran datang dari kerabat, namun pendiriannya tak goyah. Pada tahun 1943, ia justru memilih jalur militer, bergabung dengan PETA setelah mendapat pelatihan dari tentara Jepang. Ketika proklamasi kemerdekaan berkumandang, Soesalit langsung mengabdikan diri pada Tentara Keamanan Rakyat Republik Indonesia, memulai karier cemerlangnya sebagai prajurit.

Sitisoemandari Soeroto dalam "Kartini: Sebuah Biografi" (1979) mengisahkan, Soesalit aktif terlibat dalam berbagai palagan pertempuran melawan penjajah Belanda. Keberanian dan kepemimpinannya mengantarkannya pada kenaikan pangkat yang pesat, serta popularitas di kalangan militer. Puncak prestasinya tercapai pada 1946, saat ia dipercaya menjabat Panglima Divisi II Diponegoro, sebuah posisi krusial dalam menjaga ibu kota negara di Yogyakarta. Tak hanya di militer, ia juga sempat dipercaya memegang jabatan sipil, termasuk sebagai penasihat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastro pada tahun 1953.

Ironisnya, di puncak kariernya, sedikit sekali orang yang tahu bahwa Soesalit adalah putra dari R.A. Kartini, seorang ikon nasional yang kisahnya terus menginspirasi dan lagunya "Ibu Kita Kartini" ciptaan W.R. Soepratman telah akrab di telinga masyarakat. Ini bukan kebetulan, melainkan pilihan Soesalit sendiri untuk tidak pernah mengumbar atau memanfaatkan nama besar ibunya. Jenderal A.H. Nasution, atasan Soesalit, menjadi saksi hidup atas prinsip teguh ini. Nasution bahkan menyaksikan bagaimana Soesalit, setelah purna tugas, memilih hidup dalam kesederhanaan sebagai veteran, tanpa pernah menuntut hak-hak istimewa.

"Dia bisa saja hidup makmur, cukup dengan menyatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya putra Kartini. Simpati publik pasti akan berlimpah, mengubah nasib jenderal bintang dua itu," ujar Nasution, seperti dikutip dari "Kartini: Sebuah Biografi" (1979). Namun, Soesalit bergeming. Prinsipnya untuk tidak pernah mengklaim keturunan Kartini tetap ia pegang teguh hingga akhir hayatnya. Konsekuensinya, pria kelahiran Rembang ini menjalani hidup dalam kesederhanaan hingga wafat pada 17 Maret 1962, sebuah teladan nyata akan integritas dan kemandirian.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post