Ekonesia – Bayang-bayang konflik global kembali menyelimuti dunia menyusul eskalasi ketegangan antara Iran dan Israel. Kabar kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Minggu, setelah serangan Amerika Serikat dan Israel, menjadi pemicu kekhawatiran baru. Di tengah ketidakpastian geopolitik ini, strategi keuangan yang tepat menjadi krusial. Robert Kiyosaki, investor kawakan sekaligus penulis buku laris Rich Dad Poor Dad, memberikan peringatan keras dan membocorkan tiga aset penting yang disebutnya sebagai benteng pertahanan menghadapi potensi "kiamat" finansial.
Baca juga: Eks Menteri Agama Yaqut Ditahan KPK Harta Fantastisnya Terkuak
Kiyosaki tak segan memprediksi kolapsnya pasar dan resesi dahsyat yang akan datang, bahkan kemungkinan perang besar. Ia menyoroti peran Gedung Putih, Departemen Keuangan AS, dan Federal Reserve sebagai "tiga antek" yang mempercepat krisis. "Karena ulah Gedung Putih, Departemen Keuangan AS, dan The Fed, resesi dahsyat berikutnya mungkin terjadi. Bahkan bisa jadi perang. Bagi jutaan orang, periode kelam akan segera tiba," ujarnya. Namun, ia menambahkan, bagi mereka yang memiliki mentalitas tepat dan siap, Depresi Hebat berikutnya justru akan menjadi momen terbaik dalam hidup. "Mohon bersiap. Jaga diri Anda. Beli emas, perak, Bitcoin," tegas Kiyosaki.

Peringatan Kiyosaki sejalan dengan pergerakan pasar aset safe haven. Pada Senin (2/3/2026) pukul 06.28 WIB, harga emas melambung 1,4% mencapai US$ 5360,49 per troy ons, menandai pertama kalinya emas menyentuh level US$ 5300 sejak Desember 2025. Data Refinitiv menunjukkan, harga emas global ditutup di US$5.277,29 atau menguat 1,74% pada Jumat (27/2/2026), menjadi level tertinggi dalam sebulan terakhir. Secara mingguan, emas bahkan mencatatkan kenaikan impresif 3,41%. Perak pun tak ketinggalan, menunjukkan jalur kenaikan signifikan di penghujung Februari 2026. Setelah dibuka di US$ 88,22 per troy ons pada Senin (23/2/2026), harga perak mencapai puncaknya di US$ 93,81 per troy ons pada Jumat (27/2/2026), jauh di atas level US$ 73,45 yang tercatat pada pertengahan Februari akibat koreksi pasar.
Baca juga: UMKM Bogor Siap Go Digital! Ada Apa?
Di sisi lain, Bitcoin (BTC) menunjukkan volatilitas berbeda. Hingga pertengahan Februari 2026, Bitcoin mencatat penurunan tajam -23% secara Year-to-Date (YTD). Ini membuktikan bahwa dalam badai ketidakpastian pasar masif, seperti perang atau perang dagang, Bitcoin masih bertindak sebagai aset berisiko tinggi (high-beta risk asset). Institusi cenderung mencairkan Bitcoin terlebih dahulu untuk mengamankan kas dan menutupi kebutuhan margin mereka saat guncangan global terjadi. Namun, di tengah kejatuhan tersebut, muncul fenomena unik: kelompok aset Crypto Emas, seperti PAX Gold (PAXG) dan Tether Gold (XAUT), justru melonjak dengan kinerja positif +15% YTD pada periode yang sama. Disparitas kinerja sebesar 38% antara Bitcoin dan Crypto Emas ini menjadi sinyal valid adanya pergeseran modal besar bagi pengelola portofolio. Arus investasi raksasa kini mengalir deras dari instrumen spekulatif menuju aset fisik terdigitalisasi, mencari perlindungan hakiki di tengah eskalasi geopolitik dan kebijakan proteksionis.
Kiyosaki secara konsisten menganjurkan satu-satunya cara untuk membentengi diri dan orang-orang terkasih adalah dengan berusaha keras, mengelola keuangan cerdas, dan berinvestasi pada aset seperti emas, perak, serta Bitcoin. Ia dikenal sebagai pengkritik vokal pandangan finansial konvensional dan penganjur literasi finansial untuk meraih kemakmuran. Peringatan dan nasihat terbarunya ini sejalan dengan filosofi terdahulunya mengenai kecerdasan finansial dan investasi strategis, yang selalu menganjurkan tiga kelas aset tersebut. Kiyosaki juga berulang kali memperingatkan agar tidak menimbun instrumen investasi tradisional seperti mata uang fiat, saham, obligasi, reksa dana, dan ETF, yang menurutnya dinilai tak bernilai.
Ia menyatakan bahwa investasi-investasi inilah yang sering menjadi pilihan masyarakat miskin dan kelas menengah, yang bekerja keras pada pekerjaan dengan pendapatan semu yang dapat dikenai pajak, menjanjikan gaji konsisten namun tanpa kepastian pekerjaan. Kiyosaki menekankan pentingnya memahami perbedaan antara aset sejati dan ilusi kekayaan, terutama di masa-masa penuh gejolak seperti sekarang.


Tinggalkan komentar