Ekonesia – Kota Makkah sejak dahulu kala telah menjadi magnet bagi para saudagar dan pusat perniagaan besar. Letaknya yang strategis di persimpangan jalur dagang penting antara Timur dan Barat, menjadikan Makkah kawah candradimuka bagi lahirnya tokoh-tokoh kaya raya pada masanya. Sebut saja Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah, yang memiliki jaringan bisnis hingga ke Mesir. Nabi Muhammad SAW sendiri juga dikenal pernah aktif dalam dunia perdagangan. Namun, di antara semua figur tersebut, nama Abdurrahman bin Auf kerap disebut sebagai sosok yang kekayaannya nyaris tak tertandingi, bahkan diakui sebagai salah satu orang terkaya di kota suci itu.
Baca juga: BLT Kejutan! Pemerintah Gelontorkan Dana Segar
Abdurrahman bin Auf merupakan salah satu generasi awal yang memeluk Islam, atas ajakan Abu Bakar as-Shiddiq. Ia bergabung dengan agama baru ini bersama sejumlah tokoh besar lainnya seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Setelah bersyahadat, kesetiaannya kepada Rasulullah tak pernah pudar, selalu mendampingi dalam setiap perjuangan. Di sela-sela kesibukannya, Abdurrahman tak pernah absen dari aktivitas berdagang. Profesi ini dipilihnya karena fleksibilitasnya, memungkinkan dirinya menjelajahi berbagai kota untuk meraih keuntungan.

Sebuah studi mendalam mengenai konsep bisnis Abdurrahman bin Auf (2022) mengungkap rahasia di balik kesuksesannya yang luar biasa. Prinsip utamanya adalah menjauhi segala bentuk transaksi haram dan tidak pernah berutang. Ia selalu berdagang sesuai dengan keahlian dan pengetahuannya. Selain itu, sifat serakah tidak pernah hinggap dalam dirinya. Setiap keuntungan yang didapat selalu diputar kembali untuk tujuan yang lebih besar, seperti bersedekah kepada keluarga dan mereka yang membutuhkan.
Baca juga: Citilink Ganti Nakhoda! INACA Beri Pesan Penting
Ia juga dikenal tidak pernah menjual barang secara kredit, karena menganggapnya sebagai praktik riba. Yang terpenting, Abdurrahman bin Auf tak pernah meremehkan keuntungan sekecil apa pun. Baginya, besar atau kecil, laba adalah tanda bahwa barang dagangannya laku dan bermanfaat.
Berkat seluruh prinsip dan upaya inilah, kekayaan Abdurrahman bin Auf melimpah ruah. Meskipun nominal pastinya tidak tercatat secara detail, besarnya sedekah yang ia keluarkan menjadi indikator jelas betapa luar biasanya hartanya. Tercatat, ia pernah menjual tanah senilai 1.000 dinar, serta mendonasikan 500 ekor kuda dan 1.500 ekor unta untuk kebutuhan kaum Muslimin di medan perang. Bahkan menjelang wafatnya, ia mewasiatkan 500 ribu dinar dan 400 ribu dinar kepada setiap pejuang yang terlibat dalam Perang Badar.
Jika dikonversikan ke nilai masa kini, dengan asumsi 1 dinar setara Rp54.699, maka total wasiat dan penjualan tanahnya mencapai 901.000 dinar, atau sekitar Rp49.283.799.000. Belum lagi nilai dari 500 kuda (dengan asumsi harga Rp25 juta per ekor) yang mencapai Rp12.500.000.000, serta 1.500 unta (dengan asumsi harga Rp20 juta per ekor) senilai Rp30.000.000.000. Jika ditotal, seluruh sumbangan dan wasiatnya diperkirakan mencapai angka fantastis Rp91.783.799.000.
Tentu, perhitungan ini hanyalah estimasi berdasarkan kurs dan asumsi harga di masa kini. Namun, hal tersebut tidak mengurangi fakta bahwa Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling kaya raya, dengan kisah hidup yang penuh inspirasi bagi para pebisnis modern.





Tinggalkan komentar