Terungkap Penyesalan Finansial Terbesar

Agus Riyadi

2 Maret 2026

3
Min Read

Ekonesia – Sebuah fakta mengejutkan terkuak dari survei terbaru di Amerika Serikat. Ternyata, bukan utang menumpuk atau investasi gagal, melainkan minimnya tabungan untuk masa pensiun yang menjadi penyesalan finansial paling mendalam bagi banyak orang. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Negeri Paman Sam, namun juga bergaung kuat di Indonesia.

Survei yang dilakukan oleh Bankrate terhadap lebih dari dua ribu responden di AS mengungkapkan bahwa kegagalan menyiapkan dana hari tua adalah beban pikiran terbesar. Analis finansial Bankrate, Stephen Kates, bahkan menyebut penyesalan ini kian membesar seiring bertambahnya usia. Ironisnya, hampir separuh responden mengaku belum melakukan tindakan konkret untuk membenahi kondisi keuangan mereka dalam setahun terakhir. Mereka cenderung berharap pada solusi eksternal seperti harga kebutuhan pokok yang lebih terjangkau, peluang kerja yang melimpah, biaya sewa yang ringan, hingga pulihnya pasar saham.

Terungkap Penyesalan Finansial Terbesar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi serupa tak jauh berbeda di Tanah Air. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa kepemilikan rekening bank di lembaga formal baru mencapai 76,3% dari total penduduk. Lebih miris lagi, jumlah pekerja yang terdaftar sebagai peserta dana pensiun masih sangat minim, hanya sekitar 29 juta jiwa. Ini mengindikasikan bahwa banyak masyarakat Indonesia juga berpotensi menghadapi penyesalan finansial yang sama di masa depan.

Namun, para pakar keuangan menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai. "Lebih baik terlambat memulai daripada tidak pernah sama sekali," ujar Jake Martin, seorang penasihat finansial dari Ohio. Ada beberapa langkah strategis yang bisa diterapkan, baik oleh warga AS maupun masyarakat Indonesia, untuk keluar dari lingkaran penyesalan finansial ini.

Langkah pertama adalah memadamkan "api keuangan" yang berkobar. Ini berarti melunasi tumpukan utang berbunga tinggi, seperti tagihan kartu kredit atau pinjaman online, yang dapat menggerogoti potensi tabungan. Selain itu, identifikasi dan pangkas pengeluaran tidak wajib atau "discretionary spending" yang seringkali menjadi lubang bocor keuangan. Ashton Lawrence, perencana keuangan asal South Carolina, menyarankan untuk mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan. Mulai dari kebiasaan makan di luar, langganan layanan streaming yang tak terpakai, aplikasi yang terlupakan, hingga belanja impulsif. Setiap rupiah yang berhasil dihemat adalah modal berharga untuk masa depan.

Setelah api padam, prioritas selanjutnya adalah membangun benteng pertahanan finansial berupa dana darurat. Idealnya, dana ini cukup untuk menutupi biaya hidup selama tiga hingga enam bulan. Keberadaan dana darurat sangat krusial untuk mencegah Anda kembali terjerat utang berbunga tinggi saat menghadapi situasi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan mendadak atau biaya kesehatan darurat.

Jika dua langkah awal sudah tertangani, fokus beralih pada peningkatan simpanan pensiun. Umumnya, orang menargetkan menabung 5% hingga 10% dari penghasilan. Namun, bagi mereka yang merasa tertinggal, Martin menyarankan untuk meningkatkan porsi tabungan secara signifikan, bahkan hingga 20% atau 30%, terutama jika baru serius menabung di usia 40-an. Dalam beberapa kasus, mempertimbangkan untuk menunda usia pensiun juga bisa menjadi opsi untuk memberikan waktu lebih banyak dalam mengumpulkan dana. Jumlah pasti yang dibutuhkan akan sangat bervariasi, tergantung pada usia dan gaya hidup yang diinginkan saat memasuki masa pensiun.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post