Ekonesia – Siapa sangka di balik kemegahan Aman Resort jaringan hotel mewah yang tersebar di berbagai penjuru dunia ada kisah inspiratif dari seorang anak bangsa. Dikenal dengan estetika budaya yang kental dan harga menginap yang fantastis mencapai puluhan juta semalam Aman Resort berhasil memikat pelancong global. Salah satu mahakaryanya di Indonesia adalah Amanjiwo di Magelang yang menawarkan pemandangan Borobudur nan spektakuler. Namun di balik kesuksesan global ini tersembunyi cerita pahit Adrian Willem Ban Kwie Lauw-Zecha alias Adrian Zecha pria asal Sukabumi Jawa Barat yang pernah terusir dari tanah kelahirannya.
Baca juga: Rashford Kabur dari MU? Sensasi La Liga Menanti!
Adrian Zecha lahir dalam keluarga Tionghoa terpandang dan kaya raya di Sukabumi yang oleh Mely Tan disebut sebagai ‘cabang atas’. Ayahnya William Lauw-Zecha adalah orang Indonesia pertama yang lulus dari Iowa University AS pada 1923 sementara saudara-saudaranya menduduki posisi penting di pemerintahan kolonial. Kehidupan Adrian yang penuh kemudahan termasuk kuliah di Pennsylvania pada 1950-an tiba-tiba berbalik 180 derajat. Antara 1956-1957 sentimen anti-non-Indonesia meningkat diiringi kebijakan nasionalisasi perusahaan swasta oleh Presiden Soekarno. Bisnis keluarga Zecha pun disita negara dan mereka terpaksa angkat kaki bermukim di Singapura. Beruntung Adrian saat itu berada di AS melanjutkan karier sebagai jurnalis.

Sebelum menjadi maestro perhotelan Adrian Zecha mengawali kariernya sebagai jurnalis wisata di majalah Time. Profesi ini membawanya berkeliling dunia menjelajahi berbagai destinasi menumbuhkan minat mendalam pada industri pariwisata dan perhotelan. Sentuhan pertamanya dengan bisnis hotel terjadi pada 1972 saat ia turut membangun Regent International Hotels. Pengalaman ini menjadi bekal berharga sebelum ia akhirnya mewujudkan visi hotel impiannya sendiri.
Baca juga: Timo Werner Pindah Benua Ada Apa Sebenarnya
Kisah pendirian Aman Resort pada 1988 bermula dari ketidakpuasan Adrian terhadap konsep hotel yang lazim saat itu. Ia merasa hotel-hotel besar dengan banyak kamar dan tingkat kelas berbeda justru menutupi keindahan lokasi wisata. Adrian bermimpi menciptakan sebuah konsep hotel yang eksklusif kecil hanya sekitar 50 kamar menyatu dengan alam dan budaya lokal serta berlokasi di tempat-tempat terpencil. Filosofi ini bertujuan untuk memberikan pengalaman yang intim damai dan pelayanan personal maksimal bagi setiap tamu.
Wujud nyata dari visinya terwujud di Phuket Thailand. Bersama temannya Anil Thadani Adrian menginvestasikan US$4 juta untuk membangun hotel pertamanya. Pada Desember 1987 hotel itu rampung dan diberi nama Amanpuri. Nama "Aman" yang berarti "damai" dalam bahasa Sanskerta mencerminkan filosofi inti yang ingin ditawarkan kepada para pengunjung. Dengan jumlah kamar yang terbatas Amanpuri menjanjikan pelayanan istimewa yang jauh berbeda dari hotel-hotel lain yang mengutamakan kuantitas.
Strategi unik Adrian Zecha terbukti sukses besar. Aman Resort tidak hanya terkenal karena kemewahannya tetapi juga karena kemampuannya menemukan lokasi-lokasi wisata terpencil yang menakjubkan. Kini Aman Group telah beroperasi di 20 negara dengan nama-nama seperti Amanjiwo Amanpuri dan Amankila menjadi ikon kemewahan dan ketenangan. Kisah Adrian Zecha adalah bukti nyata bahwa keterusiran bisa menjadi pemicu untuk meraih kesuksesan global sebuah kebanggaan bagi Indonesia yang melahirkan seorang visioner di industri perhotelan dunia.











Tinggalkan komentar