Terungkap Defisit NPI RI Jauh Berkurang

Agus Riyadi

20 Februari 2026

2
Min Read

Ekonesia – Kabar baik datang dari sektor perekonomian nasional. Bank Indonesia (BI) baru saja mengumumkan bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang tahun 2025 mencatat defisit yang jauh lebih kecil, hanya sebesar 1,5 miliar dolar AS atau setara 0,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan defisit tahun sebelumnya yang mencapai 8,6 miliar dolar AS (0,6% dari PDB).

Penurunan defisit NPI ini tidak lepas dari kinerja positif beberapa komponen utama. Salah satunya adalah peningkatan surplus neraca perdagangan barang. Ekspor produk manufaktur Indonesia menunjukkan geliat yang kuat, menjadi pendorong utama membaiknya posisi neraca perdagangan. Selain itu, surplus neraca pendapatan sekunder juga tercatat lebih tinggi, didukung oleh peningkatan signifikan penerimaan remitansi dari para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berkontribusi pada pemasukan devisa negara.

Terungkap Defisit NPI RI Jauh Berkurang
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meski demikian, beberapa sektor masih menghadapi tantangan. Defisit neraca jasa terpantau meningkat, terutama dipicu oleh kenaikan defisit jasa telekomunikasi seiring dengan pesatnya pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi di dalam negeri. Defisit neraca pendapatan primer juga menunjukkan peningkatan, yang sebagian besar disebabkan oleh pembayaran dividen yang lebih tinggi.

Sementara itu, pada sisi transaksi modal dan finansial, Indonesia mencatat defisit sebesar 4,2 miliar dolar AS sepanjang tahun 2025. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh keluarnya aliran modal asing dari investasi portofolio dan investasi lainnya. Ketidakpastian yang tinggi di pasar keuangan global sepanjang tahun tersebut menjadi faktor dominan yang mendorong investor menarik dananya.

Menariknya, pada kuartal IV-2025 saja, NPI justru mencatat surplus yang cukup besar, mencapai 6,1 miliar dolar AS. Surplus ini ditopang oleh kinerja positif neraca perdagangan migas serta peningkatan remitansi dari PMI yang terus mengalir.

Namun, di sisi lain, transaksi berjalan pada kuartal terakhir tahun 2025 mencatat defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS (0,7% dari PDB). Angka ini berbalik dari surplus 4,0 miliar dolar AS (1,1% dari PDB) yang tercatat pada triwulan III 2025. Defisit ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk defisit neraca perdagangan migas yang lebih tinggi seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi domestik. Selain itu, defisit neraca jasa juga meningkat karena penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada kuartal IV dibandingkan kuartal sebelumnya. Peningkatan pembayaran dividen di akhir tahun turut memperparah defisit neraca pendapatan primer.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post