Ekonesia – Emas, logam mulia yang berkilau, selalu menjadi magnet bagi investor di seluruh dunia. Meskipun harganya sering berfluktuasi tajam, daya tariknya sebagai aset pelindung nilai jangka panjang tak pernah pudar. Namun, jauh sebelum era investasi modern, lembaran sejarah Indonesia menyimpan kisah penemuan emas raksasa yang menggemparkan, terkubur di jantung Banten.
Baca juga: Tahan Dulu! Harga BBM Stabil di HUT RI ke-80
Wilayah Cikotok, Banten, pernah menjadi saksi bisu terkuaknya cadangan emas yang diperkirakan mencapai puluhan ribu ton. Penemuan fantastis ini bukan sekadar anugerah alam, melainkan tonggak penting yang membuka babak baru dalam industri pertambangan emas di Nusantara. Jauh sebelum kemerdekaan, desas-desus tentang kekayaan tersembunyi di selatan Batavia, sekitar 200 kilometer dari pusat kota, telah sampai ke telinga pemerintah kolonial Belanda.

Kabar ini tentu saja memicu rasa penasaran dan ambisi besar. Untuk membuktikan kebenarannya, sebuah ekspedisi geologi besar-besaran pun diluncurkan pada tahun 1919, dipimpin oleh seorang ahli dari Belanda bernama W.F.F. Oppenoorth. Bersama timnya, Oppenoorth menembus belantara Jawa, mulai dari Sukabumi, menyusuri hutan lebat hingga mencapai titik yang diyakini sebagai sumber emas. Proses ini tidak hanya melibatkan penelitian, tetapi juga pembukaan jalan dan pembangunan terowongan awal sebagai persiapan jika tambang benar-benar ditemukan.
Baca juga: AC Milan Ambruk! Conceicao Akui Tekanan Suporter!
Kerja keras tim Oppenoorth akhirnya membuahkan hasil gemilang. Ternyata, rumor itu bukan isapan jempol. Cikotok memang menyimpan deposit emas yang luar biasa melimpah. Namun, tantangan penambangan tidaklah mudah. Dibutuhkan upaya besar untuk menembus hutan dan membangun jaringan terowongan yang kompleks. Pada tahun 1928, sekitar 25 terowongan berhasil dibangun, membelah perbukitan terjal, dataran tinggi, dan lembah sempit. Sebuah laporan dari harian Sumatra-bode pada Maret 1928 bahkan menyebutkan, "Sebanyak kurang lebih 25 terowongan kini telah dibangun, hanya sebagian yang memiliki kedalaman tidak lebih dari 135 meter."
Investasi besar-besaran pun digelontorkan, mencapai 80.000 gulden per tahun, setara miliaran rupiah di masa kini. Namun, pengeluaran itu sebanding dengan hasil yang didapat. Pada Maret 1928, misteri emas Cikotok akhirnya terkuak sepenuhnya. Ditemukanlah cadangan emas yang mencapai 30.000 ton di bawah tanah. "Hingga saat ini ditemukan emas sebesar 30.000 ton dari Cikotok," demikian laporan Sumatra-bode.
Sayangnya, kekayaan melimpah ini justru jatuh ke genggaman penjajah. Setelah penemuan tersebut, hak operasional tambang diserahkan kepada NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam. Operasi penambangan pun digencarkan secara besar-besaran. Akses pengangkutan tambang tidak lagi hanya dari Sukabumi, melainkan diperluas dari Rangkasbitung dan Pelabuhan Ratu, seperti yang dilaporkan de Indische Courant pada Juli 1939. Sebuah pabrik berkapasitas 20 ton per hari juga didirikan, meskipun kapasitasnya tak mampu menampung seluruh hasil eksploitasi yang saking banyaknya. Bahkan, para pekerja kerap menemukan bongkahan emas dengan berat bervariasi, ada yang mencapai 126 gram.
Pada tahun 1933, catatan penambangan emas Cikotok semakin fantastis. Area penambangan mencapai 400 kilometer persegi, dan emas bisa didapatkan hanya dengan menggali sedalam 50 meter. Bahkan, perkiraan total cadangan emas melonjak drastis. "Jumlah emas yang terungkap dari eksplorasi berjumlah lebih dari 61.000 ton emas dengan nilai 3,68 miliar gulden," tulis de Locomotief pada Maret 1933.
Namun, di tengah gemerlap kekayaan ini, hanya pemerintah kolonial yang merasakan manisnya keuntungan. Rakyat pribumi tak merasakan manisnya hasil, tetap terjerat kemiskinan, meskipun janji kesejahteraan sempat digaungkan.
Kisah kejayaan tambang emas Cikotok berlanjut hingga era kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, tambang ini dinasionalisasi, dikelola oleh NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan, lalu beralih ke PT Aneka Tambang pada tahun 1974. Namun, setiap kisah memiliki akhir. Kisah kejayaan Cikotok berakhir pada tahun 2005, seiring menipisnya cadangan emas yang telah dieksploitasi selama puluhan tahun. Meski demikian, warisannya berlanjut, digantikan oleh raksasa tambang lain seperti Freeport di Papua, yang meneruskan jejak kejayaan pertambangan emas di bumi pertiwi.











Tinggalkan komentar