Rupiah Menggila IHSG Mati Suri

Agus Riyadi

28 Januari 2026

2
Min Read

Ekonesia – Di tengah gejolak pasar saham domestik yang memaksa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghentikan sementara perdagangannya, nilai tukar rupiah justru menunjukkan performa yang mengejutkan. Mata uang Garuda ini perkasa di hadapan dolar Amerika Serikat, mencatatkan penguatan signifikan saat bursa saham terdiam.

Berdasarkan pantauan data Refinitiv pada pukul 13.58 WIB, rupiah sukses melambung 0,33%, bertengger di level Rp16.705 per dolar AS. Tren positif ini sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi, di mana rupiah langsung tancap gas dengan penguatan 0,30% ke posisi Rp16.710 per dolar AS. Bahkan, rupiah sempat menyentuh puncak kekuatannya hari ini di angka Rp16.675 per dolar AS.

Rupiah Menggila IHSG Mati Suri
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Fenomena ini semakin menarik perhatian mengingat IHSG harus menjalani trading halt selama 30 menit. Penghentian aktivitas jual beli saham ini dipicu oleh penurunan indeks acuan bursa yang telah melampaui 8% pada pukul 13.43 WIB, menandakan tekanan jual yang masif di pasar modal.

Kekuatan rupiah yang kontras ini tak lepas dari kondisi dolar AS di kancah global yang sedang tertekan. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, terpantau melemah 0,13% ke level 96,100 pada siang hari ini. Pelemahan ini bukan kejadian sesaat, melainkan kelanjutan dari tekanan tajam pada sesi sebelumnya, ketika DXY ditutup anjlok 0,85% ke 96,217, mencetak rekor terendah dalam empat tahun terakhir.

Koreksi mendalam pada DXY mengindikasikan adanya pergeseran strategi dari para pelaku pasar. Investor mulai melepas aset-aset berdenominasi dolar, mengalihkan fokus mereka ke aset-aset berisiko dan mata uang dari negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Ini menjadi angin segar bagi valuta domestik.

Berbagai faktor turut memperparah tekanan terhadap greenback. Salah satunya adalah komentar Presiden AS Donald Trump yang menyatakan tidak terlalu khawatir dengan pelemahan dolar baru-baru ini, bahkan menganggapnya belum terlalu besar. Pernyataan ini ditafsirkan pasar sebagai sinyal bahwa pemerintah AS cukup nyaman dengan dolar yang lebih lemah, mengingat hal tersebut dapat mendongkrak daya saing produk ekspor Amerika.

Selain itu, ambiguitas kebijakan di Washington juga menjadi beban bagi dolar. Wacana Trump mengenai Greenland yang kembali mencuat, serta kritik terhadap independensi bank sentral AS The Federal Reserve, menambah ketidakpastian. Spekulasi mengenai potensi intervensi valuta asing terkoordinasi antara AS dan Jepang untuk menopang yen juga turut menjadi pemberat bagi mata uang Paman Sam.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post